muhamaze

entah apa yang terpikirkan, mengalir begitu saja

Conus – Conotoxin

Conus – Conotoxin

by Muhammad Masrur Islami (LIPI Ambon)

Sejak dari dulu moluska jenis Conus telah dikoleksi karena keunikan dan keindahan cangkangnya. Namun beberapa dekade terakhir ini Conus menjadi suatu objek penelitian yang menarik, juga karena keistimewaan yang ada padanya. Keistimewaan itu adalah adanya racun yang disebut conotoxin, yang memiliki efek mematikan terhadap biota lain termasuk manusia.

Conus adalah moluska laut (marine mollusc) termasuk kelas gastropoda anggota famili Conidae yang dapat ditemukan di pasir dan batuan karang di laut. Gastropoda famili Conidae diperkirakan berjumlah sebanyak 500 jenis tersebar di beberapa bagian dunia. Conidae dapat ditemukan di wilayah temperate dan subtropis namun area persebaran utamanya adalah daerah Indo-Pasifik meliputi perairan Tropis, lautan Hindia, lautan Pasifik, dan wilayah Australia.

Conus dalam klasifikasi moluska termasuk kelas gastropoda, subclass Prosobranchia, ordo Neogastropoda, dan superfamili Conoidea yang terbagi menjadi Turridae, Terebridae, dan Conidae. Contoh klasifikasi conus adalah sebagai berikut, misalnya Conus nobilis skinneri da Motta, 1982 (http://www.coneshell.net/):

Kingdom      : Animalia

Phylum        : Mollusca

Class           : Gastropoda

Subclass      : Prosobranchia

Order           : Neogastropoda

Suborder      : Toxoglossa

Superfamily  : Conoidea

Family          : Conidae

Genus           : Conus

Species         : nobilis

Subspecies   : skinneri da Motta, 1982

Conus merupakan biota yang aktif pada malam hari sedangkan pada siang hari biota ini biasanya bersembunyi di bawah batuan maupun koral atau membenamkan dirinya ke dalam pasir. Mangsa alami conus terdiri dari ikan-ikan berukuran kecil, gastropoda, pelecypoda, octopus dan polychaeta. Conus dapat dibedakan menjadi tiga golongan berdasarkan pada jenis mangsanya meliputi:

1. Piscivorous, yaitu mangsanya berupa ikan.

2. Molluscivorous, mangsanya berupa moluska lainnya.

3. Vermivorous, mangsanya berupa cacing.

Lebih dari 70 spesies conus adalah piscivorous, demikian halnya dengan conus yang bersifat molluscivorous berjumlah kurang lebih 70 spesies, sedangkan lebih dari 150 spesies lainnya adalah vermivorous termasuk memangsa hemichordata dan echiuroids. Jenis conus yang bersifat piscivorous terutama terdapat di kawasan Indo-Pasifik, misalnya C. geographus, C. aulicus, C. magnus, C. striatus, dan C. tulipa. Jenis-jenis tersebut pada umumnya memiliki racun yang berbahaya terhadap manusia, dibanding conus yang bersifat vermivorous seperti C. clerii, C. jaspidus, dan C. regius. Meskipun demikian sebagian besar conus memiliki efek racun yang berbahaya bagi manusia.

Conus mendeteksi adanya mangsa di lingkungan menggunakan “siphon” yang dilengkapi dengan kemoreseptor. Kemudian menjulurkan proboscisnya keluar untuk melumpuhkan target. Ujung proboscis tersebut terdapat gigi radular menyerupai seruit dan mengandung racun (conotoxin) yang sangat berbahaya bagi mangsanya.

Conotoxin dihasilkan dari “long tubular duct” yang panjang dan seringkali hampir sama dengan panjang tubuh Conus itu sendiri. Salah satu ujungnya terdapat sebuah “muscular bulb” yang dapat berkontraksi menghasilkan kekuatan pada gigi radularnya saat menginjeksi racun. Gigi radular yang menyerupai seruit ini dibentuk dalam kantong radular (radular sac) yang terisi racun, kemudian dialirkan melalui ‘buccal cavity’ ke ujung proboscisnya yang dibantu dengan adanya otot radular.

Saat kontak dengan mangsa, gigi pada ujung proboscis ditusukkan ke dalam jaringan mangsa dan menginjeksi racunnya. Proses pelumpuhan mangsa bisa terjadi hanya beberapa detik saja sehingga kecil kemungkinan dapat melarikan diri. Setelah mangsa lemas kemudian Conus menarik masuk mangsa melalui pembukaan proboscisnya ke dalam perutnya untuk didigesti.

Komposisi racun Conus pada umumnya berbeda-beda sesuai dengan jenis spesies dan individu dalam masing-masing spesies serta sesuai dengan mangsa yang dilumpuhkan. Komponen aktif dari conotoxin berupa racun peptida rantai kecil, umumnya 12-30 residu asam amino sesuai dengan densitas ikatan disulfida. Komposisi dari conotoxin berbeda-beda pada tiap injeksi. Aktivitas farmakologi juga berubah, racun conus mengandung peptida neurotoksik paralitik dan bersifat lethal. Efek lethal ini pernah dicobakan pada mencit.

Komponen paralitik dari conotoxin telah menjadi fokus kajian ilmu pengetahuan terutama farmakologi. Komponen itu antara lain alpha-, omega-, dan myu-conotoxin. Target dari masing-masing komponen conotoxin berbeda-beda. Target alpha-conotoxin adalah ikatan ligand nicotonic, myu-conotoxin targetnya voltage-gated sodium channel sedangkan target omega-conotoxin adalah voltage-gated calcium channel.

Source:

http://library.thinkquest.org/C007974/2_1con.htm

http://www.coneshell.net/

http://www.weichtiere.at/Mollusks/Schnecken/meer/conotoxin.html

http://www.avru.org/health/health_cones.html

http://www.weichtiere.at/Mollusks/Schnecken/meer/kegel.html

http://biology.burke.washington.edu/conus/

http://www.emedicine.com/med/topic1636.htm

Filed under: SAINS , , , ,

Leave a Reply

sekilas tentangku

lahir di banyumas ngapak, kini berkelana di ambon manise, berkawan dengan hewan laut lunak menawan yang kadang bercangkang, bermain di deburan ombak segara, tertatih berusaha merambahi dunia maya sebagai muhamaze

bakudapa

maluku

yang tersimpan

parade

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ristek Internet Sehat Brighter Planet's 350 Challenge Greenpeace SEA-Indonesia

maju export Indonesia

Maju Export Indonesia