Nyalakan obor-obor itu, biarkan nyiru* terentang, masuklah seirama gelombang….
Laor, sungguh nama yang penuh misteri. Malam minggu yang lalu aku menemuinya, ternyata ia telah menjadi primadona yang membuat senyum warga kampung mengembang. Yah, Lycde oele beribu-ribu timbul tenggelam diterpa alunan ombak pantai berkarang, berenang-renang diantara raupan nyiru. Sungguh menakjubkan.
Ini kali pertama aku melihat fenomena yang membuatku tercengang. Waktu itu Sabtu sore (14/3) yang cerah, mobil kijang merah meluncur cepat ke arah Bandara Pattimura, terus ke barat naik turun jalanan aspal yang cukup sempit. Sampailah di suatu tempat yang indah eksotis khas pesisir, Negeri Alang. Di sinilah kejadiannya, saatnya timba laor.
Bagi yang belum tahu, Laor adalah sejenis cacing laut dalam bahasa ilmiahnya Lycde oele. Cacing ini unik karena ia muncul hanya setahun sekali, biasanya saat purnama pasang tertinggi. Tidak semua pantai bisa menikmati adanya penampakan laor ini. Umumnya pantai berkaranglah yang biasa menjadi tempat keluar. Ya seperti di Negeri Alang yang aku kunjungi.
Saat masuk daerah Alang, sudah terasa sekali akan adanya pesta laor. Warga kampung, tua muda, laki perempuan semua berbondong ke pantai membawa obor dan nyiru menunggu waktu malam dan tentunya menunggu laor keluar. Lambat laun mentari pun masuk, dan malam mengembang. Saat itulah obor-obor mulai disulut, nyiru-nyiru mulai direntangkan, satu-persatu warga masuk ke air menyambut datangnya laor.
Ramai, meriah, penuh suara-suara tawa khas Ambon, ditambah lagi riak-riak gelombang yang mengalun. Bener-bener malam yang gegap gempita. Semuanya menikmati. Hanya 3 jam. Setelah itu, satu persatu warga mulai mentas naik ke darat sambil menjinjing laor di dalam ember. Pulanglah sudah, dan saatnya untuk dimasak. Sayangnya aku ngga sempat mencicipi bagaimana rasa laor itu. Namun yang kutahu laor penuh protein seperti kebanyakan cacing lainnya.
Bingung mau nulis apa lagi, tapi bener-bener malam itu laor telah menjadi pemeran utama. Laor, the phenomenon…

*nyiru (bahasa Ambon): seser, alat untuk menangkap ikan dan sejenisnya.
Filed under: AMBOINA , alam, alang, Ambon, cacing, fenomena, jelajah, laor, laut, lycde oele, Maluku, pesisir, polychaeta
mereka berkata