Pernahkah kawan-kawan ke pesisir pantai? Bila jawabannya pernah maka ku tanya lagi, pernah melihat tumbuhan yang ada dalam air laut di pantai tersebut? bila jawabannya pernah, maka ku tanya lagi, tahukah jenis tumbuhan apa itu? Iya benar sekali, tumbuhan hijau yang di laut itu adalah lamun. Dalam bahasa Inggrisnya seagrass. Inilah yang kadang membuat salah persepsi. Seagrass secara harfiah berarti rumput laut, tapi padahal maksudnya adalah lamun. Sedangkan rumput laut memiliki istilah sendiri “algae”. Ya tetaplah dengan kerancuan itu. Karena bukan itu yang mau dibahas, jadi tenang saja. Tulisan ini hanya sekedar tambahan pengetahuan bagi kawan-kawan, tentang lamun.
Ayo mulai kita me”lamun”
Salah satu sumberdaya alam wilayah pesisir adalah padang lamun atau seagrass. Padang lamun adalah ekosistem pesisir yang ditumbuhi oleh lamun sebagai vegetasi yang dominan. Lamun adalah kelompok tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dan berkeping tunggal (Monokotil) yang mampu hidup secara permanen di bawah permukaan air laut. Komunitas lamun berada di antara batas terendah daerah pasang surut sampai kedalaman tertentu dimana cahaya matahari masih dapat mencapai dasar laut.
Manfaat dan potensi dari ekosistem lamun antara lain:
1. Lamun mempunyai daya untuk menangkap (trapped) sedimen, menstabilkan substrat dasar, dan menjernihkan air.
2. Lamun sebagai sistem tumbuhan merupakan sumber produktivitas primer, yang diketahui mempunyai nilai produktivitas yang cukup tinggi.
3. Lamun merupakan sumber makanan langsung bagi hewan.
4. Lamun merupakan habibat yang baik bagi beberapa jenis hewan.
5. Lamun merupakan substrat bagi organisme yang menempel.
6. Lamun mempunyai kemampuan untuk memindahkan unsur-unsur hara terlarut di perairan yang ada di permukaan sedimen.
7. Akar-akar dan rhizomes lamun mampu mengikat sedimen sehingga bisa mencegah erosi.
Lamun tumbuh di perairan dangkal dan tersebar luas mulai dari utara, kawasan Artik sampai ke sebelah selatan, benua Afrika dan New Zealand. Konsentrasi sebaran lamun ada di daerah Indo-Pasifik dan pantai-pantai Amerika Tengah, di daerah Karibia-Pasifik.
Menurut Den Hartog (1970) lamun di dunia terdiri dari dua famili, 12 genera dengan 49 spesies. Dari 12 genera tersebut, tujuh genera diantaranya hidup di perairan Tropis, yaitu Enhalus, Thalassia, Thalassodendron, Halophila, Halodule, Cymodocea dan Syringodium . Jumlah spesies yang ada di daerah tropis sebanyak 25 spesies, dan 12 spesies diantaranya ada di Indonesia yaitu; Halodule uninervis, H. pinifolia, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Syringodium isoelifolium, Thalassodendron ciliatum, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, H. ovata, H. decipients, H. spinulosa.
Faktor Pembatas
Sama halnya seperti tanaman air lainnya, maka faktor pembatas yang menentukan kehidupan lamun secara fisiologis adalah faktor-faktor yang mempengaruhi proses fotosintesis, yaitu penetrasi cahaya matahari, unsur hara dan difusi karbon anorganik. Disamping itu ada juga faktor lainnya seperti suhu perairan, salinitas, dan pergerakan air yang mempengaruhi tumbuhan makrofit seperti lamun ini.
1. Penetrasi cahaya matahari, kecerahan, kedalaman air.
Lamun tumbuh di perairan dangkal karena membutuhkan cahaya matahari. Namun pada perairan jernih yang memungkinkan penetrasi cahaya dapat masuk lebih dalam, maka lamun dapat hidup di daerah tersebut. Misalnya lamun jenis Thalassia testudinum yang mampu tumbuh pada kedalaman 13 meter dan Cymodocea manatorum tumbuh pada kedalaman 22 meter di kawasan selatan St John, Virgin Islands.
Kemampuan tumbuh lamun pada kedalaman tertentu sangat dipengaruhi oleh saturasi cahaya setiap individunya. Kekeruhan karena suspensi sedimen dapat menghambat penetrasi cahaya, dan secara otomatis kondisi ini akan mempengaruhi pertumbuhan lamun.Selaim itu, kekeruhan juga dapat disebabkan oleh pertumbuhan epifitic algae dan fitoplankton, limbah domestik dan limbah organik, yang semuanya dapat menurunkan keberadaan energi cahaya untuk pertumbuhan lamun, yang pada kahirnya juga mempengaruhi biota-biota yang ada di habitat lamun tersebut seperti ikan, beberapa jenis moluska dan krustasea.
2. Sumber Karbon dan Metabolisme.
Sumber karbon anorganik untuk fotosintesis umumnya adalah dari karbon dioksida dan bikarbonat. Suplai karbon anorganik ini sangat penting bagi lamun dalam pertumbuhannya.
3. Suhu Air
Tumbuhan makrofit seperti lamun, yang tumbuh pada kondisi mendekati level kompensasi (kekurangan cahaya) akan mencapai pertumbuhan optimum pada suhu rendah, tetapi pada suhu tinggi akan membutuhkan cahaya yang cukup banyak untuk mengatasi pengaruh respirasi dalam rangka menjaga keseimbangan karbon. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan lamun lebih efektif pada cahaya yang rendah pada musim panas daripada musim dingin. Pada kondisi intensitas cahaya yang cukup, lamun umumnya mempunyai suhu optimum untuk fotosintesis sekitar 25-35 derajat Celcius.
4. Salinitas
Secara umum salinitas yang optimum untuk pertumbuhan lamun adalah berkisar antara 25-35 ppm. Namun toleransi salinitas ini sangat bervariasi diantara masing-masing spesies. Lamun yang hidup di daerah estuarin cenderung lebih toleran terhadap salinitas (euryhaline), dibandingkan dengan spesies yang stenohalyne, yaitu selamanya hidup di laut atau di perairan hipersalinitas.
5. Pergerakan Air
Pengaruh pergerakan air terhadap tumbuhan lamun antara lain berkaitan dengan suplai unsur hara, sediaan gas-gas terlarut, dan untuk menghalau sisa-sisa metabolisme dan limbah yang pada akhirnya akan mempengaruhi produktivitas primer dari lamun tersebut.
6. Nutrien
Lamun mengambil unsur hara terlarut melalui akar dan daun dengan mekanisme tergantung pada jenis unsur hara dan konsentrasinya. Jika konsentrasi pada kolom air tinggi, maka pengambilan melalui daun mungkin lebih dominan. Sebaliknya apabila nilai ambang (ambient level) di kolom air rendah, pengambilan unsur hara akan lebih banyak dilakukan melalui akar.
Referensi
Den Hartog, C. 1970. The seagrasses of the world. North Holland Publishing Company, Amsterdam: 275 pp.
Supriharyono. 2007. Konservasi ekosistem sumberdaya hayati di wilayah pesisir dan laut tropis. Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 428 pp.
Filed under: SAINS , den hartog, ekosistem, lamun, laut, Marine, pesisir, potensi, seagrass















mereka berkata