Rabu, 2 September 2009 • 11:19
Berpantun, sudah sangat jarang dilakukan sekarang, padahal itu juga budaya bangsa yang seharusnya tetap kita pelihara. Setelah 64 tahun kemerdekaan mari kita tingkatkan persatuan dan kesatuan serta pelihara terus kebudayaan kita, termasuk berpantun yang baik. Ayo di kita berpantun, dijaminmurah….
matiin lebah pecahkan toples
buaya di lautan beralun-alun
dijaminmurah adakan kontes
saya ikutan dengan berpantun
beli baju sayang mertua
serumah kegirangan pasang muka
kini waktu yang istimewa
setelah kemerdekaan datang puasa
dahan rambutan penuh buahnya
dari kota siapkan bekal
bulan ramadhan penuh pahala
mari kita optimalkan amal
tiga empat kurangi lima
masih tersisa dua kerudung
dunia akherat mari berlomba
menjadi manusia yang beruntung
selokan desa di kanan kiri
ikan dan domba berkejar-kejaran
bersihkan dosa sucikan diri
iman dan takwa kita tingkatkan
salaknya pondoh sarat pelepah
dijilatin lebah terbuka kulitnya
pahala Alloh sangat melimpah
dijaminmurah bila kita mematuhi-NYA
bukan jembatan bukan anjungan
terlalu indah bila dilupakan
bulan Ramadhan bulan ampunan
selalu ibadah baca Al-quran
jangan marah duhai kekasih
domba digolok tak akan mati
dijaminmurah terima kasih
lomba blog tingkatkan prestasi
makan jagung di tepi jalan
semakin renyah taburi terasi
jangan bingung cari hostingan
dijaminmurah jadi solusi
sepatu diinjak jaket di tangan
pamerin gajah di waktu sore
begitu banyak paket hostingan
dijaminmurah yang paling oke
dingin salju bekukan bokap
adik manja dimasakin oncom
ingin tahu hostingan mantap
klik saja dijaminmurah.com
kuncup durian terasa gurih
bunga pala tertimpa duri
cukup sekian terima kasih
moga kita berjumpa lagi
gula kelapa warnanya merah
pohon dadap berair asin
bila ada banyaknya salah
mohon maaf lahir batin
Salam damai salam persahabatan untuk semua saudaraku di seluruh penjuru nusantara. Semangat…!!!
Filed under: BLOG COMPETITION , dijaminmurah, lomba blog dijamin murah, lomba blog DJ 2009
Selasa, 18 Agustus 2009 • 13:53
Sedikit fakta mengenai sampah:
- Sebetulnya tidak ada orang yang bebas dari status sebagai produsen sampah. Setiap individu diperkirakan ”menghasilkan” 1-2 kilogram sampah per hari [http://koran.kompas.com/]
- Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur adalah 55.000 meter kubik) [http://www.koranbekasi.com/]
- Jakarta pada Juli 2007 menunjukkan bahwa timbulan sampah per hari mencapai 26.945 meter kubik. Jumlah sampah yang setara dengan 6.736 ton itu bukanlah perkara kecil. Hanya sekitar 6.000 ton yang tertanggulangi. Sisanya tersebar di sembarang tempat, di mana saja [http://koran.kompas.com/]
- Jumlah sampah plastik yang kian berkibar-kibar mengotori lingkungan, tampaknya akan segera menjelma menjadi investasi bencana di masa mendatang [http://www.d-infokom-jatim.go.id/]
- Sampah di sungai Jakarta dalam sehari jumlahnya mencapai 768 meter kubik per hari atau setara 192 truk Fuso [http://metro.vivanews.com/news/]
- Sampah adalah barang sisa yang oleh warga sering hanya sekadar dijauhkan dari dirinya [http://koran.kompas.com/]
Ketika sampah semakin menjadi masalah, dibutuhkan sungguh suatu kesadaran pribadi masing-masing orang untuk tidak beranggapan bahwa Sampahmu Masalahku atau Sampahku Masalahmu tetapi memahami bahwa Sampah adalah Masalah Kita Bersama.
Filed under: SERBANEKA , peduli, sampah, masalah, kesadaran
Jumat, 14 Agustus 2009 • 14:26
Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Saya yakin semua pernah dengar peribahasa ini dan mengetahui maksudnya, sehingga tak perlu lagi dijelaskan. Lebih jelas lagi karena fenomena ini sangat banyak terjadi di lingkungan kita. Ketika kita begitu mudahnya melihat kesalahan atau aib orang lain yang meskipun sangat kecil hingga lupa bahwa ternyata aib dan kesalahan kita lebih banyak dan lebih besar dari orang itu. Begitu mudahnya kita mengacungkan telunjuk kita, menuduh kesalahan pada sesama padahal bila dilihat lebih cermat ketika kita menunjuk orang maka ada lebih banyak lagi jari lainnya yang menunjuk pada diri kita.
Itu adalah gambaran betapa kita sering melupakan bahwa kita tidak menyadari misalnya ada suatu kejadian, kita mudah sekali untuk menyalahkan orang lain padahal sebenenarnya kesalahan yang ada pada diri kita jauh lebih besar. (Lho.. kok mblibed gini ya..). Saya tidak memberi contoh disini, biarlah teman-teman mencari contoh sendiri dan lebih memahami dan mungkin menyadari entah kapan, atau pernahkan kita melakukan yang demikian dan yang jelas saya percaya pasti banyak yang melakukan hal demikian.
Beruntunglah orang-orang yang selalu melihat diri sendiri (introspeksi) terhadap apa yang telah ia perbuat. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari-cari kesalahan diri sendiri, dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya di waktu yang akan datang. Tiap malam sebelum tidur memikirkan apakah di siang harinya berbuat kesalahan kepada saudaranya yang lain, apa yang telah diperbuat sepanjang hari itu. Sungguh sangat jarang yang demikian. Muhasabah terhadap diri sendiri…
Memang, kita lebih mudah untuk menilai orang lain tetapi begitu sulit untuk melihat diri sendiri (introspeksi). Saya sangat menyadari hal itu, begitu sulitnya untuk melihat kesalahan yang ada pada diri saya. Makanya saya mencoba membagi kegundahan ini pada teman-teman semua. Sembari berharap lambat laun kita bisa menjadi pribadi yang bisa mulat sarira angrasa wani, pribadi yang berani melihat dirinya sendiri dan tidak menyibukkan diri untuk memikirkan kesalahan-kesalahan apa yang telah diperbuat orang lain.
Kiranya seperti apakah diri kita ini…?
Filed under: SERBANEKA , introspeksi, muhasabah, mulat saliro
Minggu, 12 Juli 2009 • 23:01
Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap, entah mengapa masa kecilku dulu begitu terobsesi dengan buku itu. Aku masih ingat betapa berharganya buku tersebut karena di dalamnya menyimpan berbagai macam informasi mengenai sejarah, budaya, kenegaraan, adat, negara-negara, nama-nama sungai dan lain sebagainya. Buku yang sederhana, kalo dibandingkan dengan Ensiklopedia ya jelas kalah, namun bila kita mempelajari RPUL juga tak ada habis-habisnya. Banyak sekali informasi yang dapat digali dan tentunya sangat bersinggungan dengan dunia sekolah karena informasi-informasi yang ada tak jarang keluar di ujian kelas maupun pada saat ada acara cerdas cermat dulu.

Dan minggu kemarin pas lagi jalan-jalan ke toko buku, tak sengaja aku melihatnya (RPUL) dan langsung membelinya. Tak tahu kenapa, sepertinya ada semacam rasa kangen yang membuncah (halah) saat aku teringat waktu SD kelas 4 saat pak Guru bertanya di mana Pekan Olahraga Nasional pertama kali digelar, semua murid tak tahu jawaban ketika aku teringat RPUL maka kuacungkan jari “Salatiga…” ya benaaar… pak Guru tersenyum manggut-manggut. Sungguh masih banyak lagi pengetahuan lain yang bisa didapat dalam RPUL itu.

Aku juga teringat ketika sangat suka pada Atlas. Melihat peta-peta kepulauan Indonesia, bermain tebak-tebakan dengan kakakku, ibuku dan teman-teman sebayaku mencari lokasi di peta. Di mana Mojokerto, di mana Lhokseumawe, di mana Sumenep dan lokasi-lokasi lainnya, sungguh begitu menantang permainan itu. Efek positif dari semua itu aku jadi terpacu untuk tahu lebih banyak lagi tentang fenomena-fenomena yang ada di seluruh penjuru dunia. Saat kubaca RPUL menyebut Tembok Besar China, maka di Atlas kucari negara Cina, saat RPUL bicara tentang Samudra Atlantik dan Pasifik, maka Atlas menunjukanku kedua samudra itu. Benar-benar suatu paduan yang saling melengkapi. Dan mungkin akan lebih sempurna lagi bila ada Ensiklopedia Dunia, namun sayang saat itu aku belum punya. Namun meskipun begitu, dengan RPUL dan Atlas sungguh sangat membantuku untuk memahami tentang sejarah dan fenomena yang ada baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Harapanku semoga saja aku bisa berkeliling dunia melihat tempat-tempat istimewa yang tergambar dalam RPUL maupun Atlas, suatu saat semoga.
Filed under: NOSTALGIA , atlas, dunia, ensiklopedia, ilmu, pengetahuan, rpul
mereka berkata