Jumat, 14 Agustus 2009 • 14:26
Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Saya yakin semua pernah dengar peribahasa ini dan mengetahui maksudnya, sehingga tak perlu lagi dijelaskan. Lebih jelas lagi karena fenomena ini sangat banyak terjadi di lingkungan kita. Ketika kita begitu mudahnya melihat kesalahan atau aib orang lain yang meskipun sangat kecil hingga lupa bahwa ternyata aib dan kesalahan kita lebih banyak dan lebih besar dari orang itu. Begitu mudahnya kita mengacungkan telunjuk kita, menuduh kesalahan pada sesama padahal bila dilihat lebih cermat ketika kita menunjuk orang maka ada lebih banyak lagi jari lainnya yang menunjuk pada diri kita.
Itu adalah gambaran betapa kita sering melupakan bahwa kita tidak menyadari misalnya ada suatu kejadian, kita mudah sekali untuk menyalahkan orang lain padahal sebenenarnya kesalahan yang ada pada diri kita jauh lebih besar. (Lho.. kok mblibed gini ya..). Saya tidak memberi contoh disini, biarlah teman-teman mencari contoh sendiri dan lebih memahami dan mungkin menyadari entah kapan, atau pernahkan kita melakukan yang demikian dan yang jelas saya percaya pasti banyak yang melakukan hal demikian.
Beruntunglah orang-orang yang selalu melihat diri sendiri (introspeksi) terhadap apa yang telah ia perbuat. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari-cari kesalahan diri sendiri, dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya di waktu yang akan datang. Tiap malam sebelum tidur memikirkan apakah di siang harinya berbuat kesalahan kepada saudaranya yang lain, apa yang telah diperbuat sepanjang hari itu. Sungguh sangat jarang yang demikian. Muhasabah terhadap diri sendiri…
Memang, kita lebih mudah untuk menilai orang lain tetapi begitu sulit untuk melihat diri sendiri (introspeksi). Saya sangat menyadari hal itu, begitu sulitnya untuk melihat kesalahan yang ada pada diri saya. Makanya saya mencoba membagi kegundahan ini pada teman-teman semua. Sembari berharap lambat laun kita bisa menjadi pribadi yang bisa mulat sarira angrasa wani, pribadi yang berani melihat dirinya sendiri dan tidak menyibukkan diri untuk memikirkan kesalahan-kesalahan apa yang telah diperbuat orang lain.
Kiranya seperti apakah diri kita ini…?
Filed under: SERBANEKA , introspeksi, muhasabah, mulat saliro
Minggu, 12 Juli 2009 • 23:01
Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap, entah mengapa masa kecilku dulu begitu terobsesi dengan buku itu. Aku masih ingat betapa berharganya buku tersebut karena di dalamnya menyimpan berbagai macam informasi mengenai sejarah, budaya, kenegaraan, adat, negara-negara, nama-nama sungai dan lain sebagainya. Buku yang sederhana, kalo dibandingkan dengan Ensiklopedia ya jelas kalah, namun bila kita mempelajari RPUL juga tak ada habis-habisnya. Banyak sekali informasi yang dapat digali dan tentunya sangat bersinggungan dengan dunia sekolah karena informasi-informasi yang ada tak jarang keluar di ujian kelas maupun pada saat ada acara cerdas cermat dulu.

Dan minggu kemarin pas lagi jalan-jalan ke toko buku, tak sengaja aku melihatnya (RPUL) dan langsung membelinya. Tak tahu kenapa, sepertinya ada semacam rasa kangen yang membuncah (halah) saat aku teringat waktu SD kelas 4 saat pak Guru bertanya di mana Pekan Olahraga Nasional pertama kali digelar, semua murid tak tahu jawaban ketika aku teringat RPUL maka kuacungkan jari “Salatiga…” ya benaaar… pak Guru tersenyum manggut-manggut. Sungguh masih banyak lagi pengetahuan lain yang bisa didapat dalam RPUL itu.

Aku juga teringat ketika sangat suka pada Atlas. Melihat peta-peta kepulauan Indonesia, bermain tebak-tebakan dengan kakakku, ibuku dan teman-teman sebayaku mencari lokasi di peta. Di mana Mojokerto, di mana Lhokseumawe, di mana Sumenep dan lokasi-lokasi lainnya, sungguh begitu menantang permainan itu. Efek positif dari semua itu aku jadi terpacu untuk tahu lebih banyak lagi tentang fenomena-fenomena yang ada di seluruh penjuru dunia. Saat kubaca RPUL menyebut Tembok Besar China, maka di Atlas kucari negara Cina, saat RPUL bicara tentang Samudra Atlantik dan Pasifik, maka Atlas menunjukanku kedua samudra itu. Benar-benar suatu paduan yang saling melengkapi. Dan mungkin akan lebih sempurna lagi bila ada Ensiklopedia Dunia, namun sayang saat itu aku belum punya. Namun meskipun begitu, dengan RPUL dan Atlas sungguh sangat membantuku untuk memahami tentang sejarah dan fenomena yang ada baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Harapanku semoga saja aku bisa berkeliling dunia melihat tempat-tempat istimewa yang tergambar dalam RPUL maupun Atlas, suatu saat semoga.
Filed under: NOSTALGIA , atlas, dunia, ensiklopedia, ilmu, pengetahuan, rpul
Senin, 6 Juli 2009 • 22:27

tersapu angin
diam tanpa kata
menekuri rentang perjalanan ini
senyap dalam kabut pekat
letihku meraja
mungkin sudah saatnya untukku mudik
menemukan kesegaran kampung halaman
terbesit tatapan lelaki dengan rambut mulai memutih
menumpahkan pundi rindu hati
ketika diterpa senyum tulus bunda
di pojokan Banyumas sana
______________________________________
Filed under: OFF TOPIC , ayah, bunda, kampung halaman, rindu hati
Kamis, 2 Juli 2009 • 11:20
Bunglon, reptil yang bisa merubah warna tubuhnya istilah kerennya mungkin kamuflase kali ya. Denger kata itu tadi pagi di siaran radio, terus aku jadi kepikiran kenapa ngga ngapdet postingan pake si bunglon ini hehe. Setelah mikir-mikir lagi jadi inget juga bunglon juga blognya bos yang satu ini, The Bunglon’s.

www.tnhalimun.go.id
Bagi yang belum pernah liat bunglon, mungkin gambar diatas salah satu contohnya. Lihat saja, dimana lingkungannya coklat maka warna tubuh bunglon akan berubah coklat. Banyak tujuan mengapa bunglon merubah warna, intinya untuk keselamatan dirinya bla… bla.. bla.. dst. Disini saya ngga akan menjelaskan aspek biologi bunglon, saya cuma pengin bicara mengenai pelajaran, filosofi, hikmah bunglon dalam kehidupan kita. Ya bukan berarti kita harus merubah warna tubuh kita sesuai tempat dimana kita berada, tapi maksudnya adalah proses sosialisasi, adaptasi dan kepekaan kita pada lingkungan kita (mblibed ngomongnya hehe).
Belajar dari bunglon mengandung pengertian bahwa kita seharusnya bisa menempatkan atau memposisikan diri kita secara tepat dalam pergaulan. Misalnya kita mengerti tatacara berpakaian yang sopan di suatu adat tertentu, berperilaku yang sesuai dengan aturan adat tertentu, yang intinya kita bisa seiring dan selaras dengan aturan atau tatanan yang ada di lingkungan dimana kita berada. Bila kita tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan bisa saja kita menjadi bahan ketawaan, olok-olokan ataupun bahan gosip orang sekampung gara-gara misalnya pakai bikini saat kondangan dan sebagainya.
Jadi intinya pada bingung ya…? hehe. Yah simpel saja, di dalam kehidupan kita bermasyarakat, sudah seyogyanya kita mengerti aturan dan tatanan yang ada sehingga kita bisa beradaptasi dan berintaraksi dengan baik serta tidak dirasa aneh maupun nyleneh oleh orang lain. Mbunglonlah tapi di lingkungan yang baik tentunya..
Filed under: SERBANEKA , adaptasi, bunglon, interaksi, kamuflase, merubah warna
mereka berkata