::
you're reading
SERBANEKA

Kenangan Masa Kecil Saat Ramadhan

Ha..ha..ha.. memang menggelikan bila mengingat kejadian yang tak terlupakan ini, tepatnya pas Ramadhan 13 tahun yang lalu. Saat itu aku masih kelas 2 SMP. Bersama dua orang temanku yang lain (Anang dan Fadli) aku sekolah di SMP Muhammadiyah Ajibarang yang jaraknya cukup jauh dari rumahku sehingga harus jalan 2 km dulu dan setelah itu naik angkutan umum baru bisa nyampe ke sekolah. Makanya jangan tanya berapa kali telat masuk sekolah, kalo diranking mungkin kami bertiga berada di papan atas perolehan nilai telat masuknya. Sudah bukan rahasia lagi kalau tiga anak Krajan ini bisa 4 kali bahkan lebih dalam seminggu mendahulukan gurunya untuk masuk kelas alias telat.

Sebenarnya bukan masalah telat masuk kelas ini yang mau kau ceritakan, tetapi ada kenangan lain yang dirasa lebih bodoh dan konyol, dan kebetulan itu terjadi di bulan Ramadhan. Waktu itu aku bertiga dengan teamnku pulang sekolah sengaja agak sore. Kebetulan saat itu hujan dan sekalian “nggolet sore” istilah orang Jawa nunggu waktu berbuka puasa. Kejadiannya di jalan menuju desaku setelah aku turun dari angkutan umum.

Hujan masih gerimis-gerimis kecil ketika langkah kaki tiga anak desa menyusuri jalan Kranggan-Krajan yang tiap hari menjadi saksi semua kenangan saat pulang sekolah. Aku dan dua temanku jalan pelan biar nyampe rumah pas buka puasa, sementara itu langit terus menurunkan titik-titik kecilnya hingga membasahi baju-baju kami dan juga buku-buku yang terselip di dalam tas. Semua masa bodoh seiring dengan euforia waktu hujan.

Langkah-langkah terus berderap sampai di samping lapangan Kranggan (Dawuhan) aku dan temanku melihat tumpukan buah aneh yang beruntai-untai panjang seperti peluru-peluru senjata mesin di film-film Rambo. Berwarna-warni hijau, kuning dan ada sedikit yang kehitaman. Kami coba mendekati dan tanpa basa-basi satu persatu dari kita ambil dan membuka kulitnya. Keras. Bahkan Fadli sampe lupa menggigit sedikit kulit buah itu. Ah ternyata tidak apa-apa. Aku dan Anang saling lempar buah-buah aneh itu mengenai tangan dan baju-baju kami. Hujan pun masih mengguyur setia.

Beberapa saat kemudian kami berlalu tanpa bertanya buah apa itu. Dalam benakku ya paling buah yang satu rumpun dengan jambe atau pinang. Kami bertiga bergegas jalan kembali naik-turun menyusuri jalan licin tersapu air hujan. Tiba-tiba rasa gatal gak enak merasuk ke kulit-kulit kami layaknya air hujan yang membasahi dari tadi. Aku dan temanku saling tatap penasaran, semakin lama gatal semakin menjadi-jadi. Tangan, kaki, dan seluruh badan serasa meringis-ringis ingin digaruk. Bahkan Fadli merasakan gatal yang sangat pada mulutnya karena tadi sempat menggigit dengan mulut. Kami kelimpungan dalam alunan gerimis sore itu. Bagiku, rasa gatal itu diperparah dengan rasa nyeri pada pantatku yang kebetulan lagi kena bisul alias wudhun. Bener-bener tersiksa.

Hujan mulai berhenti ketika kami berada di depan suatu rumah. Ibu pemilik rumah mungkin menyaksikan lagak aneh dari ketiga anak culun ini sehingga dia menanyakan apa yang terjadi. Dengan polosnya kami ceritakan semua mulai dari hujan-hujanan sampai akhirnya ketemu sama tumpukan buah-buah aneh di pinggir jalan di samping lapangan. Kuceritakan ciri-ciri buah itu dan kayaknya ibu itu paham apa sebenarnya buah yang saat ini seperti sedang balas dendam karena tadi kami permainkan. Dan ternyata itu adalah buah aren. Memang biasanya di saat Ramadhan, buah-buah itu banyak dijual untuk diambil bijinya yang disebut kolang-kaling sebagai campuran kolak. Ya tentunya yang diambil adalah dalamnya (bijinya) yang sebelumnya melalui proses tertentu sebelum bisa dimakan, jelas ibu tadi. Akhirnya dia memberi kami balsem untuk digosokkan ke bagian yang gatal, lumayan berkurang tapi waduh panasnya, terus mengikuti sampai tiba di rumah masing-masing.

Kolang-kaling biji buah aren pas banget namanya. Buah itu mengkolang-kalingkan tiga anak bodoh ha..ha.. Sore itu aku dan dua temanku bener-bener kapok dibuatnya. Berawal dari ketidaktahuan menjadikan kami harus menahan rasa gatal yang bertubi-tubi. Semakin digaruk semakin gatal. Dasar kolang-kaling. Bagi yang belum tahu, hati-hati saja kalau lihat buah yang beruntai-untai panjang mirip pinang dengan warna yang macam-macam. Hijau kalau masih muda, kuning dan ada yang kehitaman. Bisa-bisa itu buah aren yang bikin gatal.

Kolang-kaling: biji dari buah aren (Arenga pinnata) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian inti-inti biji itu direndam dalam air kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun. Inti biji inilah yang setelah diolah lebih lanjut

About mamung

lahir di banjoemas ngapak, kini berkelana di amboina manise, berkawan terik dan gemericik hujan, bermain di deburan ombak segara, tertatih berusaha merambahi dunia maya yang penuh warna serbaneka

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: