::
you're reading
SAINS

Introduction to Mangrove Ecosystem

Mengenal Ekosistem Mangrove

Indonesia sebagai Negara maritim memiliki garis pantai yang panjang yakni sekitar 81.000 km. Di daerah pantai dan pesisir tesebut terdapat berbagai macam vegetasi, salah satunya adalah mangrove. Namun tidak semua pesisir terdapat ekosisten mangrove.

Ekosistem mangrove merupakan ekoton (daerah peralihan) yang unik, yang menghubungkan kehidupan biota daratan dan lautan. Mangrove umumnya tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai yang datar. Biasanya pada daerah yang mempunyai muara sungai besar dan delta dengan aliran airnya banyak mengandung Lumpur dan pasir. Sebaliknya mangrove tidak tumbuh di pantai yang terjal dan bergelombang besar dengan arus pasang surut yang kuat karena pada daerah tersebut tidak memungkinkan adanya endapan Lumpur dan pasir, substrat yang diperlukan untuk pertumbuhannya.

Luas ekosistem hutan mangrove di dunia diperkirakan saat ini kurang lebih 15,9 juta hektar, dan diperkirakan 27% dari luas tersebut atau sekitar 4,29 juta hektar terdapat di kawasan pesisir Indonesia. Keberadaan hutan mangrove ini sangat penting sebagai salah satu sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secara rasional.

Pengertian Mangrove

Kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis ”mangue” dan bahasa Inggris ”grove”. Dalam bahasa Inggris, kata mangrove baik dipergunakan untuk komunitas pohon-pohonan, rumput-rumputan, maupun semak belukar yang tumbuh di tepi laut. Kemudian kata mangrove dalam bahasa Portugis dipergunakan untuk individu jenis tumbuhan, dan mangal untuk komunitas hutan yang terdiri atas individu-individu jenis mangrove tersebut.

Hutan mangrove adalah hutan yang berkembang baik di daerah pantai yang berair tenang dan terlindung dari hempasan ombak, serta eksistensinya selalu dipengaruhi oleh pasang surut dan aliran sungai. Definisi lain hutan mangrove adalah suatu kelompok tumbuhan terdiri atas berbagai macam jenis dari suku yang berbeda, namun memiliki daya adaptasi morfologi dan fisiologis yang sama terhadap habitat yang selalu dipengaruhi oleh pasang surut.

Secara umum mangrove adalah vegetasi yang terdiri atas pohon atau perdu yang tumbuh di daerah pantai di antara batas-batas permukaan air pasang tertinggi dan di atas rata-rata permukaan air laut. Mangrove dapat tumbuh di daerah tropis dan memiliki pantai terlindung, di muara sungai, di sepanjang pantai berpasir atau berbatu maupun karang yang telah tertutup oleh lapisan pasir dan berlumpur. Keberadaannya juga berkaitan dengan ekosistem lainnya antara lain padang lamun dan terumbu karang.

Hutan mangrove merupakan formasi hutan yang mempunyai ciri-ciri antara lain; tidak terpengaruh iklim, terpengaruh pasang surut, tanah tergenangi air laut, tanah lumpur atau pasir terutama tanah liat,hutan tidak memiliki strata tajuk. Jenis pohon mulai dari darat ke laut meliputi Rhizopora, Avicennia, Sonneratia, Xylocarpus, Lumnitzera, Bruguiera dan lainnya. Tumbuhan bawah seperti Acrostichum aureum, Acanthus ilicifolius dan A. ebracteaus.

Faktor Yang Mempengaruhi Ekosistem Mangrove

Setiap tipe vegetasi mangrove yang terbentuk barkaitan erat dengan faktor habitatnya antara lain kondisi tanah, topografi, iklim, pasang surut dan salinitas air. Sehingga setiap daerah vegetasi mangrove umumnya membentuk suatu karakteristik yang berbeda-beda pada setiap habitatnya. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ekosistem mangrove antara lain:

1. Tanah dan struktur topografi.

Karakteristik tanah mangrove dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu halic hydraquent dan halic sulfaquent. Sedangkan keadaan tekstur tanah secara umum sangat halus dengan kadar partikel-partikel koloid yang tinggi.

Kesuburan tanah mangrove tergantung dari endapan yang di bawa oleh air sungai, yang umumnya kaya akan bahan organik dan mempunyai nilai nitrogen tinggi. Kehadiran bahan-bahan organik yang dibawa air sungai tersebut sangat menentukan tekstur tanah pada tempat di mana bahan-bahan tersebut diendapkan. Perubahan tekstur yang cepat dan tiba-tiba menyebabkan terganggunya vegetasi yang ada di tempat tersebut.

Topografi tanah pada komunitas mangrove pada umumnya landai atau bergelombang dengan tanahnya yang bertekstur liat, liat berdebu dan lempung. Topografi hutan mangrove mempengaruhi intensitas dan seringnya penggenangan yang mengakibatkan perbedaan kadar garam dalam tanah.

2. Iklim

Mangrove dapat tumbuh pada iklim tropika lembab dan panas tanpa pembagian musim tertentu, dengan curah hujan rata-rata per tahunnya berkisar antara 225-300 mm dan temperatur rata-rata maximal 32o C pada siang hari dan minimal 23o C pada malam hari.

Hutan mangrove di Indonesia sebagian besar terdapat di kawasan dengan curah hujan bulanan maupun tahunan yang tinggi. Namun tidak berarti bahwa mangrove tidak dapat berkembang di kawasan beriklim kering. Mangrove terdapat pula di kawasan beriklim kering seperti di Sulawesi Selatan dan Tenggara, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur tetapi dalam area yang lebih kecil, dan bukan hanya disebabkan oleh iklim saja melainkan oleh kondisi pantai dan tidak adanya sungai besar seperti di Sumatra, Kalimantan dan Papua.

3. Sedimentasi

Sediman sering diistilahkan sebagai material yang terkonsentrasi di dalam suatu massa iar, baik berupa bahan organik maupun anorganik. Faktor yang mempengaruhi terjadinya sedimentasi di muara sungai antara lain; topografi daerah aliran sungai, iklim, jenis dan tekstur tanah, morfometrik sungai, sistem hidrologi serta energi pasang surut di muara sungai.

Ekosistem mangrove dapat terganggu oleh adanya endapan atau sedimentasi yang terbawa oleh sungai. Sedimentasi mengakibatkan permukaan tanah menjadi lebih tinggi dan membawa perubahan terhadap berkurangnya pengaruh pasang surut air laut serta menurunnya kadar garam dalam tanah. Akibat lebih lanjut adalah berkembangnya jenis lain yang menggantikan permudaan jenis mangrove. Sedimentasi akan terjadi lebih berat lagi apabila dalam penggunaan lahan di daerah aliran sungai yang bersangkutan kurang memperhatikan aspek koservasi tanah

4. Pasang Surut

Pasang surut merupakan fenomena fisika laut berupa naik turunnya air laut sabagai akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama bulan dan matahari terhadap massa air di bumi. Selain itu pasang surut di suatu tempat dipengaruhi pula oleh rotasi bumi serta posisi geografisnya.

Pasang surut mempunyai peranan baik itu secara langsung (misalnya gerakan air, tinggi dan frekuensi) maupun peranan tidak langsung (meliputi salinitas, sedimentasi dan erosi) terhadap perkembangan hutan mangrove maupun lingkungan di sekitarnya. Gerakan pasang surut air laut juga mempunyai peranan terhadap penyebaran biji, daya tumbuh biji, namun kurang berperan terhadap kehidupan pohon yang sudah dewasa.

Mangrove akan melakukan adaptasi terhadap adanya pasang surut dengan mengembanngkan akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan horisontal yang lebar. Selain untuk memperkokoh pohon, akar tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sediman.

5. Salinitas

Salinitas merupakan salah satu faktor yanga mempengaruhi adanya zonasi pada hutan mangrove. Faktor ini erat kaitannya dengan pasang surut yang terjadi dalam satu hari dan dipengaruhi pula oleh musim dalam setahun. Mangrove beradaptasi di lingkungan berkadar salinitas tinggi antara lain dengan memiliki sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan garam,berdaun tebal dan kuat yang mengandung banyak air untuk mengatur keseimbangan kadar garam, kamudian pada daun terdapat serta struktur stomata khusus yang dapat membantu mengurangi penguapan, misalnya dapat dijumpai pada Rhizophora sp., Bruguiera sp., Ceriops sp., Sonneratia sp., dan Avicennia sp.

Sebenarnya masih banyak faktor-faktor lain yang perlu dikaji lebih lanjut berkaitan dengan keberadaan mangrove, termasuk ulah manusia yang kadang bahkan sering menyebabkan terganggunya kestabilan ekosistem mangrove. Untuk itu diperlukan pemahaman lebih mendalam lagi di kemudian hari.

REFERENSI

ALIKODRA, H. S. 1999. Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove dilihat dari Lingkungan Hidup. Prosiding Seminar VI Ekosisitem Hutan Mangrove : 33-44.

BENGEN, D. G. 2004. Mengenal dan Memelihara Mangrove. Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB. Bogor.

Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan, Jakarta : 105 – 114.

PRAMUDJI, 2000. Hutan Mangrove di Indonesia: Peranan, Permasalahan dan Pengelolaannya. Oseana XXV (1) : 13 – 20.

PRAMUDJI. 2004. Mangrove di Pesisir Delta Mahakam Kalimantan Timur. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Jakarta : 3 – 7.

PRAMUDJI & L. H. Purnomo. 2003. Mangrove Sebagai Tanaman Penghijauan Pantai. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Jakarta : 1 – 6.

About mamung

lahir di banjoemas ngapak, kini berkelana di amboina manise, berkawan terik dan gemericik hujan, bermain di deburan ombak segara, tertatih berusaha merambahi dunia maya yang penuh warna serbaneka

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: