::
you're reading
KOMPETISI

Made in Indonesia Asli

Waktu kecil dulu kalo nggak salah kelas 4 SD, aku pernah punya sepeda BMX lungsuran (baca: bekas pakai) dari kakakku. Itu pertama kalinya aku bisa sepeda, dimana saat itu belum banyak yang punya sepeda di kampungku. Masih ingat betul di rangka depan di bawah stang tertulis “MADE IN TAIWAN”. Saat itu aku belum tau apa arti kalimat itu, namun kata kakakku intinya bahwa sepedaku itu buatan Taiwan dan memang itulah maksud kata itu. Mulai saat itu setiap ada barang-barang baru apa saja, kemungkinan besar aku akan melihat dan ingin tahu barang tersebut made in mana.

Tahu nggak, ternyata dari banyaknya barang yang beredar di Indonesia, umumnya bila ada penjelasan dari mana barang itu, maka kebanyakan tertulis made in China, atau made in Shang Hai seperti piring, glassware dan barang-barang yang lain. Barang yang kelihatannya remeh tapi ternyata penting kebanyakan buatan China. Coba deh cek barang-barang yang kecil-kecil seperti pemotong kuku, pembersih CD, pembersih laptop dan lainnya, kebanyakan made in China. Baterai laptopku ta liat juga made in China. Manurutku dari sini dapat diketahui bahwa China memang kreatif, mereka berpikir apa yang tidak terpikir oleh negara lain dan mereka melakukannya. Contoh lain ada pada barang-barang pelengkap alat-alat elektronik seperti headset, radio FM mini dan lainnya. Bener-bener dah.. ditambah lagi harganya yang lebih miring dibanding produk negara lain, maski kadang kalah dalam kualitas. Tapi itu bukan masalah, karena buktinya mereka diprediksi akan menjadi pesaing negara-negara barat di perdagangan global. Dan kayaknya sudah mulai terasa tuh..

Lalu bagaimana dengan Indonesiaku…?

MADE IN INDONESIA  juga banyak, tapi feel-nya dirasa-rasa masih kurang. Kita akan lebih memilih produk impor yang kenyataannya secara umum lebih baik meskipun tidak semuanya. Itulah yang salah, harusnya kita bangga memakai produk dalam negeri. Bila terasa kualitasnya masih kurang, kita bisa memberi saran melalui hotline atau layanan pelanggan yang biasanya ada di kemasan produk tersebut. Yaa mungkin produk dalam negeri kita masih belum sebanyak produk-produk impor, tapi tidak ada salahnya bila kita perlahan-lahan namun pasti kembali ke Indonesia. Hal yang pertama bisa dilakukan mungkin dengan memilah produk-produk yang akan kita pakai, bila ternyata ada yang made in Indonesia dan made in impor maka kita mengacu pada opsi kedua yaitu keunggulan dan kelemahan produk tersebut. Bisa saja yang made in Indonesia akan lebih baik bila kita pilih. Kalo emang produk yang akan kita pakai tidak ada yang made in Indonesianya ya apa boleh buat, kita akhirnya pakai produk impor dengan catatan, kita berdoa semoga diwaktu mendatang ada versi made in Indonesianya.

Itu semua adalah sebuah paradigma dan kenapa kita tidak membuat suatu paradigma baru yaitu dengan menempatkan produk made in Indonesia sebagai tolak ukur pertama kita dalam memilih suatu produk, dan apabila ternyata nggak ada maka apa boleh buat, dengan sangat terpaksa kita pakai produk impor, tapi dengan syarat yang tadi (memberi saran dan berdoa semoga ada produk tersebut yang made in Indonesia di kemudian hari).

Paradigma diatas menurut aku penting untuk menuju suatu kemandirian yang sudah dicita-citakan oleh bangsa Indonesia sejak lama. Sekarang sudah hampir 64 tahun kita merdeka, tapi kita masih jauh dari mandiri. Mandiri dalam arti tidak selalu menggantungkan semua aspek kehidupan kita pada negara lain. Semangat kemandirian ini perlu kita pupuk dari hati masing-masing individu manusia Indonesia yang selanjutnya akan dimungkinkan terbentuknya kemandirian keluarga, masyarakat, dan ujung-ujungnya adalah kemandirian bangsa. Kalau bukan kita siapa lagi..?

bugiakso blog competition 2009

About mamung

lahir di banjoemas ngapak, kini berkelana di amboina manise, berkawan terik dan gemericik hujan, bermain di deburan ombak segara, tertatih berusaha merambahi dunia maya yang penuh warna serbaneka

Discussion

12 thoughts on “Made in Indonesia Asli

  1. Gagasannya bagus juga, tetapi hal ini tak mudah diwujudkan tanpa imbangi dengan kreativitas dari kita sendiri.

    Posted by adam | Tuesday, 27 January 2009, 23:37
  2. yang mengerikan lagiiii mo tahu? Ada bayi-bayi Made In saudi Arabia, Hongkong, Singapura yang mulai banyak beredar di Indonesia…. tu looh dampak TKI (TKW) yang kebablasan…. mengerikan….!

    Posted by hamidin krazan | Wednesday, 28 January 2009, 12:00
  3. @adam, memang intinya adalah kreatif, meskipun tidak mudah tapi tetep harus berusaha dan tetep semangat.

    @lik ham, parah banget kalo gitu. mungkin mereka mikirnya perbaikan keturunan kali he..he..
    tapi bener, mengerikan tuh..!

    Posted by muhamaze | Wednesday, 28 January 2009, 12:59
  4. dudu memperbaiki keturunan, tapi ngobrak abrik garis keturunan. Kalo memperbaiki gen mungkin iya, akhire siang asale jenenge Wirya jadi San Wirya (cina-jawa), sing maune arane Kartim jadi Card Team, awala jenenge Paikem jadi Pa… I Can….. Tumini jadi Tom Cruis,
    (contoh bayi biyung jawa bapak pakistan, benar-benar ada di daerah Brebes. Si ibu bangga merawat sang anak, meski ayahnya tidak pernah pulang ke Brebes, lah wong aslinya Pakistan masa balik ke Brebes, tar disuruh cari Pakis tiang….)

    Posted by hamidin | Saturday, 31 January 2009, 08:26
  5. wah, setuju neh. kita udah terlalu bangga kali ya make produk luar. “eh, baju gw buatan perancis neh”, ihh sebel denger kek gituan. kalo bukan kita generasi muda yang mulai mencintai produk dalam negeri, terus siapa lagi donk?
    Salam kenal

    Posted by fietha | Saturday, 31 January 2009, 11:15
  6. @lik midin, untung rika bukan keturunan asing ya..bisa-bisa jadi “Hey Made in” hehehe…
    Pokoknya bangga jadi Indonesia asli..

    @fietha, iya bener, cinta produk pribumi harus itu…

    Posted by muhamaze | Saturday, 31 January 2009, 12:02
  7. masalah barang buatan apa pernah saya jadikan penelitian kecil di wilayah kampus, sasaran saya adalah barang2 seperti pintu, kursi, AC, meja, dlsb. jarang yang buatan indonesia, menyedihkan memang.

    tapi inilah realitas yang ada, siapa yang banyak dia yang terkenal, dan barang-barang impor memang membanjiri pasar kita.

    Posted by adminksm | Sunday, 1 February 2009, 13:02
  8. wah, dasar orang kita yang suka gengsi pake barang sendiri. padahal orang luar negeri pasti suka beli barang-barang indonesia.

    Posted by budiernanto | Sunday, 1 February 2009, 13:03
  9. @ adminksm, ya memang bangsa kita harus lebih kreatif biar bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.

    @ budiernanto, sebenarnya barang lokal juga gak kalah kualitasnya, ya seperti komentar adminksm, yang banyak dia yang terkenal. barang lokal kalah terkenal dengan barang impor karena mayoritas lebih milih impor..

    Posted by muhamaze | Sunday, 1 February 2009, 16:39
  10. hmm.. saya lebih memilih untuk menyalahkan orang kaya di negeri ini. GENGSI nya luar biasa besaaarrr… ckck.

    saya pernah sedikit menuliskannya:
    http://tialtiul.com/?p=47

    salam kenal..

    Posted by tialtiul | Wednesday, 4 February 2009, 00:19
  11. kaya miskin kadang sama aja gengsinya. kalo semua bener2 pengin memajukan kemandirian Indonesia,harusnya mulai detik ini lebih memprioritaskan produk dalam negeri. produk impor jadi cadangan aja.

    salam juga n aku dah liat suratnya,salut.

    Posted by muhamaze | Wednesday, 4 February 2009, 02:25

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: masih tertatih « banyumas – ambon pp - Tuesday, 22 February 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: