::
you're reading
NOSTALGIA, SAINS

Scientific Mistake

Sebenarnya ini adalah istilah yang sudah lama dikenal di dunia. Scientific dapat diartikan sesuatu yang bersifat ilmiah, sedangkan mistake adalah kesalahan, kekeliruan. Jadi kalo digabung maknanya kesalahan-kesalahan yang bersifat ilmiah (pokoknya intinya kurang lebih gitu deh.., masalahnya aku ngga nemu definisinya di wikipedia hihi). Lah pas aku googling tentang istilah ini ternyata banyak sekali uraian tentang scientific mistakes. Salah satu sumber dituliskan bahwa terdapat Top 10 Scientific Mistakes antara lain: 1) The Circulatory System; 2) The Earth Is the Center of the Universe; 3) Germs in Surgery; 4) DNA: Not So Important; 5) The Atom Is the Smallest Particle in Existence; 6) The Earth Is Only 6,000 Years Old; 7) The Rain Follows the Plow; 8) Phlogiston; 9) Heavier Objects Fall Faster; 10) Alchemy. Bingung ya? cek saja langsung ke sumbernya biar tahu maksud istilah-istilah tersebut :-). Pada situs yang lain juga disebutkan bahwa seorang Einstein yang jenius juga tidak luput dari scientific mistake. Demikian…

Nah, istilah ini menjadi lebih populer di kalangan teman-temanku. Cerita terjadi ketika praktikum suatu mata kuliah yang kebetulan diampu oleh ibu dosen bule dari Jerman semester yang lalu. Urutan praktikum bervariasi terkait pengukuran suhu, salinitas, pH, kadar nitrat dan lainnya di laboratorium. Awalnya semua berjalan sesuai urutan, tiap kelompok gantian sesuai dengan peralatan yang ada. Namun saat satu kelompok kelar melakukan suatu pengukuran, sedangkan yang lain masih sibuk dengan pengukuran lainnya maka akan ada alat yang nganggur. Lah aku mikir daripada alat nganggur, maka aku berinisiatif untuk memakainya meski tidak sesuai urutan dan aturan (Endonesa banget hehe), pikirku biar cepet beres. Eeeeh ternyata hal tersebut diketahui ibu dosen. Bukannya diapresiasi karena efektif waktu, aku malah dapat teguran keras. “Itu bukan perilaku yang baik, tidak ilmiah, bukan sifatnya seorang scientist. Seorang scientist harus sistematis dalam kerja, tidak grasa-grusu, semua harus sesuai urutan yang telah ditentukan apapun alasannya.” gitu inti tegurannya…

Ternyata tidak sampai di situ saja. Saat hasil pengukuran ditulis tiap kelompok, ada yang ganjil dengan pengukuran kelompokku. Awalnya sih aku ngga ngeh, tapi pas diketahui oleh ibu dosen Jerman baru ketahuan bahwa hasil tersebut kurang masuk akal. Pada pengukuran salinitas tercatat nilai 38 ppm dan itu terlampau tinggi untuk suatu air laut, apalagi di laboratorium. Langsung keluarlah istilah “scientific mistake” dari mulut ibu dosen. Padahal itu benar-benar hasil pengukuran, bukan rekayasa atau asal catat saja. Kenapa bisa gitu..? Apakah ada yang nambahin garam ke akuarium..? atau cucuran keringat dari para praktikan yang menetes ke akuarium hingga menaikkan nilai salinitas..? haha ngawur.. Setelah dijelaskan, ternyata beberapa hal yang jadi kesalahan adalah tidak dilakukannya kalibrasi pada refrakto-salinometer (alat pengukur salinitas). Harusnya sebelum dipakai, dibersihin dulu tuh alatnya, dilihat apakah skalanya sudah di titik nol, baru dipakai untuk pengukuran.

Pada sesi praktikum yang lain, lagi-lagi aku kena efek scientific mistake ketika dengan “tanpa pikir panjang” aku langsung menamakan suatu biota dengan nama tertentu tanpa identifikasi terlebih dahulu, padahal itu tidak tepat. Bukan itu saja ternyata, masih banyak hal lain yang dilakukan dan itu termasuk scientific mistake meskipun kadarnya kecil. Setelah itu, kalo ada kesalahan yang dilakukan teman-teman meskipun tidak ilmiah langsung dijudge dengan istilah “scientific mistake”. Jadi salah dikit scientific mistake, dikit-dikit scientific mistake. Yaa sudaah.. Harusnya sih bukan mistake-nya yang kita kedepankan, namun yang terpenting adalah bagaimana mistake itu kita jadikan pelajaran agar tak terulang di kemudian hari. Kan gitu.. Satu yang pasti bahwa jarang apdet postingan di blog itu bukan scientific mistake :-D :-D :-D

* sumber gambar di sini

About mamung

lahir di banjoemas ngapak, kini berkelana di amboina manise, berkawan terik dan gemericik hujan, bermain di deburan ombak segara, tertatih berusaha merambahi dunia maya yang penuh warna serbaneka

Discussion

3 thoughts on “Scientific Mistake

  1. ahaha.. ternyata itu toch sejarahnya,,, :D

    setuju! pelajaran pentingnya ialah harus bisa mengubah mistake itu menjadi batu pijakan untuk lebih baik lagi di kemudian hari….
    hiduop scientific mistake… :)

    Posted by alin wattimena (@alin_chrisye) | Wednesday, 13 June 2012, 00:12
  2. susah di apalin juga itu istilah2nya sepertinya. hehehe

    Jasa SEO

    Posted by mepo | Wednesday, 17 April 2013, 10:56
  3. harus ekstra belajar lgi ni mah :D

    Posted by toko herbal online | Friday, 4 April 2014, 14:59

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: