::
you're reading
AYO BACA

Sketsa Tapak Doa

Telaga Bening

Di tepi telaga bening
Hanya tampak
Bayang arakan mendung
sebatang pohon berdaun kering
juga terlukis bayang
diriku kedinginan
tanpa dirimu,
Sayang!
meski hangat tubuhmu
melekat dalam dekapan

Puisi di atas merupakan salah satu dari sekian banyak puisi yang ada dalam buku kumpulan puisi religius “Sketsa Tapak Doa” karya Hamidin Krazan yang saya beli beberapa hari yang lalu dan sampai ke alamatku kemarin. Bila ditilik lebih dalam lagi maka akan ditemukan banyak cerita dalam untaian kata-kata yang sederhana dan lugas yang menjadi ciri khas tulisan-tulisan pengarangnya. Seperti halnya tanggapan yang diungkapkan Kurnia Effendi (cerpenis dan penyair, penulis buku The Four Fingered Pianist) terhadap buku ini bahwa “Menulis puisi religius yang terhindar dari khutbah verbal sungguh tak mudah. Beruntung, dengan pengalaman jurnalistik dan kerja keras tak kenal menyerah, seluruh rasa kehambaan Hamidin Krazan terhadap Tuhan, begitu lebur sekaligus profan. Dalam sejumlah puisinya yang lugas dan tak berbunga-bunga, makna tauhid mengalir jelas dan tak ingin pongah atas kekaribannya dengan Sang Khalik. Ia tetap perlu bermunajat, dan salah satu caranya adalah dengan doa puisi”.

Memang, setelah membaca lembar demi lembar, satu per satu puisi hingga seluruhnya 120 puisi yang ada dalam buku ini, saya seakan ikut larut dan terhanyut. Merenung tentang diri ini, tentang manusia, gejolak rasa yang serbaneka, perjalanan dan pengalaman hidup penuh warna, melihat fenomena alam dari sisi hikmah dan penuh rasa syukur, dan tentu saja tentang cinta. Kesemuanya dirangkai dalam bahasa yang “sederhana tapi memuaskan” seperti yang diungkapkan penulis.

Amal

Satu mata air dari aliran air jernih
Mengiring beribu guliran pasir
Menganak sungai
Menganak pinak anak sungai
Air dan pasir menyatu hingga lembah akhir
Kian menggunung di muara
Catatan Sang waktu
Andai saja pasir dan air
tak menjelma sebagai manusia
aliran darahnya beriak riya

Mengikuti alunan puisi-puisi dalam kumpulan puisi Sketsa Tapak Doa, secara kasat mata saya dapat langsung menggambarkan bagaimana liku hidup yang dialami penulis karena kebetulan ada kedekatan batin dan emosional dengan penulis. Meskipun jauh di sana, ada makna yang sangat dalam dari setiap puisi itu yang terkadang sangat sulit ku mendapatkan bongkahan maksudnya. Lepas dari itu semua, secara objektif sungguh saya sangat menikmati setiap letupan-letupan yang ada pada untaian kata-katanya.

Kiranya, bukan hal yang berlebihan bila saya merekomendasikan kepada teman-teman untuk buku kumpulan puisi yang satu ini. Sekedar info, buku ini belum beredar luas di toko-toko buku sehingga untuk mendapatkannya harus pesan online via penerbitnya Skylart Publisher Bandung. Dari segi harga, jelas sangat terjangkau di kantong teman-teman.

Jadi, buku kumpulan puisi Sketsa Tapak Doa ini bagus untuk menjadi salah satu koleksi terutama bagi yang menyukai puisi religi yang tertuang berdasarkan pengalaman hidup penulis yang ia sadari bahwa “putaran roda kehidupan sering kali terlampau ekstrim kadang maju, melejit dan melesat dalam sesaat, bahkan kadang sebaliknya. Dengan tekad jalani hidup tanpa pantang menyerah, segala cuaca menjadi terasa indah. Atis aduso, panas genio (kedinginan mandilah, kepanasan berjemurlah)”.

Duh Biyung 1

Duh, Biyung
Kepala ini terasa pusing
Pikiran baling-baling
Angan adigang adigung bak angin puting
Jiwa berpuing-puing
Sang sembuh bilang
“Atis aduso panas genio”
Kedinginan mandilah
Kepanasan berjemurlah

About mamung

lahir di banjoemas ngapak, kini berkelana di amboina manise, berkawan terik dan gemericik hujan, bermain di deburan ombak segara, tertatih berusaha merambahi dunia maya yang penuh warna serbaneka

Discussion

4 thoughts on “Sketsa Tapak Doa

  1. “ngantuk tidurlah, belajarnya dilanjut besok pagi” kata ibuku kalo anak-anaknya lagi ujian :D

    Posted by yak | Wednesday, 31 October 2012, 16:26
  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, Muhammad…

    Lama sekali tidak bersilaturahmi. Mudahan ada ruang waktu bisa ngeblog untuk berkongsi hikmah sesama kita.
    Saya sangat menyenangi dunia puisi. Serba puitis jika tahu mengolah bahasa dengan adunan kata yang mengembang rasa.

    Memang benar, tidak mudah menulis puisi dalam nuansa religi yang memerlukan ketepatan makna dan sangat indah jika rona katanya mempunyai siratan yang membungkam jiwa.

    Reviu yang menarik dan berusaha menonjolkan apa yang terdapat dalam jiwa pemuisinya melalui buku Sketsa Tapak Doa. Nanti, bisa juga membaca puisi religi dari Muhammad, ya. :D

    Salam ceria selalu dari Sarikei, Sarawak.

    Posted by SITI FATIMAH AHMAD | Saturday, 2 February 2013, 21:43
  3. doa yang di iringi dengan usaha pastinya.

    Pest Control

    Posted by baby | Wednesday, 17 April 2013, 11:00
  4. lama ndak mampir,, apa kabar :) ?

    Posted by Nisa | Friday, 7 February 2014, 09:01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: