::
archives

jelajah

This tag is associated with 19 posts

Laor: The Phenomenon

Nyalakan obor-obor itu, biarkan nyiru* terentang, masuklah seirama gelombang….

Laor, sungguh nama yang penuh misteri. Malam minggu yang lalu aku menemuinya, ternyata ia telah menjadi primadona yang membuat senyum warga kampung mengembang. Yah, Lycde oele beribu-ribu timbul tenggelam diterpa alunan ombak pantai berkarang, berenang-renang diantara raupan nyiru. Sungguh menakjubkan.

sunset3Ini kali pertama aku melihat fenomena yang membuatku tercengang. Waktu itu Sabtu sore (14/3) yang cerah, mobil kijang merah meluncur cepat ke arah Bandara Pattimura, terus ke barat naik turun jalanan aspal yang cukup sempit. Sampailah di suatu tempat yang indah eksotis khas pesisir, Negeri Alang. Di sinilah kejadiannya, saatnya timba laor.

Bagi yang belum tahu, Laor adalah sejenis cacing laut dalam bahasa ilmiahnya Lycde oele. Cacing ini unik karena ia muncul hanya setahun sekali, biasanya saat purnama pasang tertinggi. Tidak semua pantai bisa menikmati adanya penampakan laor ini. Umumnya pantai berkaranglah yang biasa menjadi tempat keluar. Ya seperti di Negeri Alang yang aku kunjungi.

ngoborSaat masuk daerah Alang, sudah terasa sekali akan adanya pesta laor. Warga kampung, tua muda, laki perempuan semua berbondong ke pantai membawa obor dan nyiru menunggu waktu malam dan tentunya menunggu laor keluar. Lambat laun mentari pun masuk, dan malam mengembang. Saat itulah obor-obor mulai disulut, nyiru-nyiru mulai direntangkan, satu-persatu warga masuk ke air menyambut datangnya laor.

Ramai, meriah, penuh suara-suara tawa khas Ambon, ditambah lagi riak-riak gelombang yang mengalun. Bener-bener malam yang gegap gempita. Semuanya menikmati. Hanya 3 jam. Setelah itu, satu persatu warga mulai mentas naik ke darat sambil menjinjing laor di dalam ember. Pulanglah sudah, dan saatnya untuk dimasak. Sayangnya aku ngga sempat mencicipi bagaimana rasa laor itu. Namun yang kutahu laor penuh protein seperti kebanyakan cacing lainnya.

Bingung mau nulis apa lagi, tapi bener-bener malam itu laor telah menjadi pemeran utama. Laor, the phenomenon…

cacing laor laor

*nyiru (bahasa Ambon): seser, alat untuk menangkap ikan dan sejenisnya.

Advertisements

Mesjid Tua Wapaue Kaitetu

Pas waktu sholat Ashar ketika aku dan temanku nyampe di masjid tua ini tanggal 4 Maret kemarin. Kebetulan waktu itu ada senior yang ngajak ke mesjid tersebut. Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, itulah tulisan yang terpampang di gerbang masuknya. Letaknya di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Adanya masjid tersebut membuktikan bahwa ternyata Islam sudah sangat lama  ada di Maluku. Pada prasasti tertulis bahwa mesjid itu dibangun tahun 1414 M. Mungkin ada dari teman-teman sekalian yang mau menambahkan cerita atau sejarah lengkapnya dari masjid ini, silakan saja..

Inilah sudut-sudut yang berhasil aku jepret..

gerbang1

masjid

masjid2

bedug

Lautku Kehidupanku

Indonesia memang negeri yang indah, lautnya luas, pantainya terhampar sepanjang lebih dari 81.000 km membentang di sebagian besar wilayah yang ada. Laut sebagai penghubung lintas wilayah, di dalamnya terkandung kekayaan yang melimpah; sumberdaya perikanan, budidaya, dan energi kelautan. Semua itu patut kita syukuri. Sama halnya ketika aku harus menyukuri keadaanku sekarang ini yang masih bisa menikmati ikan asin, sotong, kerang, udang-udangan dan makanan dari laut lainnya.

Tapi tahukah bahwa semua hasil laut itu tidak didapat dengan mudah, butuh usaha dan kerja keras. Seperti orang-orang di sekitar tempat tinggalku yang menyandarkan hidupnya dari laut, tetapi mereka tidak mempunyai alat-alat canggih untuk menagkap ikan. Modal mereka hanya pancing sederhana, dan apa yang mereka dapat hanya cukup untuk makan sehari-hari, kadang ada sisa sedikit untuk mereka jual, itupun kalau laku.

Ada lagi yang lain, mereka dengan susah payah menggali pasir dan batuan di pantai mencari bia (kerang dalam bahasa Ambon) yang terbenam di dalamnya. Kadang mereka dapat setengah ember, satu ember, tapi kadang juga hanya beberapa ekor saja. Semua tergantung kondisi laut, bila laut surut ada sedikit harapan tetapi bila laut sedang pasang maka akan susah sekali mencari bia. Itu semua hanya untuk makan sehari-hari, bukan hanya satu dua orang, tetapi banyak orang melakukan itu. Kadang terasa menyedihkan.

Namun perhatianku bukan sebatas pada fenomena tersebut, tetapi menjurus pada hal yang lebih penting yaitu kondisi laut itu sendiri. Tak dapat dipungkiri kalo laut di daerahku sudah mulai tercemar, baik oleh limbah domestik maupun limbah industri. Sampah mengapung dan terbenam di sekitar laut, manjadikan pemandangan yang kurang sedap karena seharusnya laut itu biru indah, tetapi yang ada sekarang hijau kecoklatan karena limbah.

Mungkin ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan. Limbah yang masuk ke laut memang tidak bisa dibendung melihat perkembangan penduduk dan pembangunan.  Semakin bertambah penduduk dan pembangunan di sekitar laut, maka konsekuensinya akan semakin banyak pula limbah yang masuk ke dalamnya. Kita juga tidak mungkin bisa mengawasi, menghentikan atau melarang masuknya limbah ke laut. Hal ini disebabkan karena setiap kegiatan manusia dalam skala besar maupun kecil selalu menghasilkan limbah, baik limbah padat, cairan, maupun gas yang terbuang ke lingkungan. Menghentikan produksi limbah berarti menghentikan seluruh kegiatan manusia. Ini tidak mungkin. Dalam konteks ini, pengendalian limbah mungkin dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah dan jenis limbah yang dihasilkan dari kegiatan manusia dan pembangunan. Contoh kongkritnya dengan kesadaran masing-masing individu untuk mengurangi kegiatan yang beresiko menghasilkan limbah, serta tidak membuang sampah limbah itu sembarangan ke laut.

Alternatif lain yaitu dengan meningkatkan peranan laut itu sendiri. Laut dalam skala tertentu memilik kapasitas asimilasi untuk memproses dan mendaur ulang limbah pencemar yang ada di dalamnya dengan adanya biota-biota yang bisa mendegradasi limbah. Namun hal ini juga tidak cukup untuk mengurangi pencemaran karena membutuhkan proses yang lama.

Jadi yang terpenting untuk dilakukan adalah memperbaiki perilaku kita terutama kegiatan yang menghasilkan limbah agar sebisa mungkin diminimalisir. Karena semua kegiatan baik di darat maupun di sekitar laut yang menghasilkan limbah, secara langsung maupun tidak langsung akan menemukan jalannya untuk mencemari laut. Mari kita jaga laut kita demi kehidupan kita dan anak cucu kita. Sumberdaya hayati yang ada sekarang bukan untuk dihabiskan, tetapi ini adalah warisan untuk keturunan kita di masa yang akan datang.

Jayalah lautku…

banner06

Di manakah teman SMA*-ku?

Aku lesu, tertunduk melepas pikiranku jauh meninggalkan ragaku, menelusuri jalanan aspal hitam yang kadang robek di tengah-tengah hingga tanpa sadar aku telah terbawa jauh melompati ruang-ruang penuh canda. Aku terpesona kala kulihat sosok-sosok itu masih ada, bercokol dalam relung jantungku dan tertancap tak kuasa lepas.

Namun satu satu perlahan bayang itu kabur, semakin membias. Mungkin aku terlalu angkuh. Kini kucoba mereka-reka pikiranku, menata puing-puing yang dulu gagah mendampingi nafasku. Sebagian telah aku rengkuh, namun entahlah dengan bongkahan yang lain. Inginku merangkainya lagi, paling tidak dia, dia, dia, semuanya. Wanong, junanto, dwisetyo, agus, budi, jupe, iva puspa, isti, desi, sekhu, ari, atik, titis, tomo, putut, i’ah, silvi, subhan, gayut, halida, erna, siti, martini, ririn, tutun, ais, evit, hesti, yoga, imeng, adi, aripin, gurit, maria ulfa, yatmi dan…. dan…. dan… sungguh aku perlu baca buku kenangan SMA*-ku, berkelana ke kampung-kampung, mengembarai friendster, blogging, dan menjelajah alam maya. Hanya untuk satu kata “Salam”.

* SMA 1 Ajibarang angkatan 2000 terutama eks. 1F dan 3IPA2

Mungkin cuma di Ambon

Ini fenomena yang mungkin hanya di Ambon, kadang lucu dan bikin gemes..

mardika3

1. Terminal apa Pasar yah??Aku juga nggak tau, katanya terminal tapi banyak yang jualan, dibilang pasar juga mobil angkutan pada ngumpul banyak. Gimana tuh?

mardika21

2. Nama toko yang keren… kayaknya terpanjang di Ambon lho.. Apalagi kalo dilihat toko itu bisa jual partai. Partai apa aja ya?

jang-sombong-ale

3. Ini yang enak, ikan bakar.. Kalo yang ini pengecualian, bukan hanya ada di Ambon, di Banyumas juga pasti ada cuma seger ato nggaknya nggak tau. Di Ambon jelas bisa dapat yang seger langsung dari laut.

ikan-bakar


Laut Masa Depan Kita

Bicara tentang laut maka sama saja kita bicara tentang sebagian kekayaan alam Indonesia. Negara kita terkenal dengan negara maritim dengan lebih dari 17 ribu pulau yang terbentang dari arah barat ke timur, utara dan selatan. Lebih dari 75 persen wilayah negara kita adalah laut. Jadi tidak berlebihan kiranya bila kita mengatakan kalau laut adalah masa depan kita. Kenapa? banyak alasan yang dapat muncul dari pernyataan tersebut, yang paling sederhana adalah melimpahnya ikan-ikan yang ditangkap nelayan.

Fenomena melimpahnya ikan misalnya ada di kota Ambon, Maluku. Bila kita jalan-jalan ke pasar Mardika di Ambon, maka akan kita temui berbagai jenis ikan hasil tangkapan yang dijual. Kebetulan juga orang-orang Ambon adalah penggemar berat ikan, sehingga jangan kaget bila melimpahnya ikan yang ada di pasar nantinya akan habis juga dibeli oleh masyarakat. Bisa disaksikan ibu-ibu ramai berdesak-desakan untuk memilih ikan yang akan mereka beli. Bapak-bapak sepulang dari kerja juga tak lupa membeli ikan sebelum pulang ke rumah, bahkan anak sekolah juga tidak mau ketinggalan. Itu baru dari jenis ikan, padahal laut memiliki beraneka ragam biota yang dapat digunakan untuk kepentingan manusia. Bagaimana dengan moluska seperti kerang-kerangan, sotong, cumi dan lainnya. Belum lagi dari udang-udangan, rumput laut, bahkan hingga energi yang bisa dihasilkan dari laut. Maka sudah sewajarnya kita bersyukur kepada Yang Kuasa atas melimpahnya kekayaan sumberdaya hayati kita di laut.

Lalu bagaimana wujud rasa syukur kita terhadap semua ini? Kita ambil contoh yang paling sederhana saja misalnya dengan menjaga kelestarian ekosistem laut yang ada. Namun bicara tentang kelestarian maka kita akan dihadapkan pada proses yang harus kita jalankan secara berkesinambungan. Salah satu wujud nyata usaha melestarikan dan menjaga kondisi laut adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan di laut. Bisa dibayangkan, tiap hari berapa ribu ton sampah masuk ke laut, mulai dari limbah domestik seperti sampah rumah tangga yang remeh-remeh sampai limbah non domestik seperti buangan sisa-sisa industri. Keadaan laut tak ubahnya seperti tempat sampah raksasa. Nah, fenomena-fenomena seperti ini harusnya kita cegah demi terjaganya kondisi laut kita. Bila kondisi laut stabil maka secara otomatis sumberdaya hayati yang ada di ekosistem laut itupun akan melimpah yang pada akhirnya kita juga yang akan menikmatinya. Ayo sama-sama kita jaga laut beserta ekosistem yang ada demi kehidupan kita dan anak cucu kita kelak.

Kerajaan Ciwunut

Ana sing takon dadine inyong crita:

Ning tataran Jawa Dwipa kira-kira neng sekitare Gunung Slamet ana kerajaan cilik sing ketlingsep sejarah alias langka sejarahe. Kerajaane sesek ning watu-watu ireng sing atos-atos (jajal bae dicokot angger ora ngandel). Wit-witan uga ana, akehe wit klapa karo kopi. Kerajaane dibatesi gar lore sawah ki Kartim, bates kulone kali Kedung, bates kidule sawah man Sahib lan bates wetane ana kalen lan sawahe man Iksan (pangapura langka petane he..he..)

Pas lagi inyong esih cilik ganu sering dolan neng kerajaan Ciwunut, andon mangan degan lan adus-adusan neng kali, bar kuwe terus ngempani lemud sing ambrungan ora nggenah. Neng tengah-tengahe kerajaan ana tuk alias sumber mata air sing banyune kinclong bersih ora ketulungan, nek patut ndean disogi gelas pinggire dadi nek ana wong arep nginum gari njikot sangkin beninge. Ana tambahan maning, neng tuk kuwe kutuke gedhe-gedhe. Ngerti kutuk ora? Sing sering mancing alias “mungin” mesti ngerti.

Ana maning keunikane bahwa Ciwunut kuwe kerajaan tanpa raja. Dasaren pancen udu kerajaan, kuwe gada-gadane lilike inyong sing nyebut Ciwunut kuwe kerajaan Ciwunut. Sing sebenere Ciwunut kuwe kebone eyange inyong. Lewih sekang separone, eyange alias kakine inyong nduwe saham Ciwunut, dadi ora salah nek diarani rajane Ciwunut. Lah siki kakine inyong wis suwe tilar dunyo, dadi urung ana penerus Kerajaan Ciwunut.

Ciwunut versine beda-beda. Angger versine inyong, Ciwunut kuwe ya kebone ramane lan kakine inyong. Tapinen ana versi liyane sing nyebutna Ciwunut kuwe ngablak-ngablak sekang kebone kakine inyong terus tekan ngidul nganti maring perek Karang Blimbing (endi maning kuwe?). Dadi, sedulur kabeh angger pengin ngerti Ciwunut neng endi, ayuh pada dolan neng Krajan, Pekuncen, Banyumas. Bakalan tek sandingi degan, kopi, klapa, mlinjo, gedang lan liyane (pete uga ana he..he..).

Ciwunut uga nggo tembungan wong-wong nggonku nek detakoni calo-calo lan kernet-kernet sing rewel neng terminal. Umpamane inyong arep balik sekang Jakarta terus ditakoni calo; “Mau kemana bang?” Angger calone rewel bae, inyong njawab maring Ciwunut. Mesti calone bingung.

Intine, Ciwunut kuwe daerah neng nggone inyong sing bisa nggo plesetan angger ditakone; maring ngendi?; ko asale ngendi?; neng endi? lan ngendi-ngendi liyane. Dadi sedulur kakang mboke wis ngerti Ciwunut mbok?

Catetan; ora nutup kemungkinan angger ana Ciwunut-Ciwunut liyane.