::
archives

Maluku

This tag is associated with 8 posts

Kalesang Pombo

Seperti yang pernah ditulis di blog saya yang lain, Pulau Pombo merupakan salah satu pulau kecil di perairan Maluku, secara geografis tepatnya di Selat Haruku yang berada di antara Pulau Haruku dan Pulau Ambon, Maluku. Sesuai SK Menteri Pertanian No. 327/Kpts/Um/7/1973 tanggal 25 Juli 1973, pulau ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi sumber daya alam dengan kategori kawasan suaka alam, statusnya cagar alam/taman laut. Kegiatan pemanfaatan sumber daya alam Pulau Pombo yang dapat dilakukan adalah dengan titik berat untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. [lanjut…]

Advertisements

Mencuatkan “local-content” Ambon/Maluku

Terinspirasi dari kekhawatiran, keresahan dan perasaan heran dari beberapa teman-teman di Blogger Maluku Arumbai maupun di Ambon Bergerak, terutama setelah baca postingannya Tanase Almascatie, akhirnya terbesit keinginan untuk menuliskannya juga di blog ini. Rasa yang bercampur aduk itu yakni suatu tanya kenapa saat kita searching di google atau mesin pencari lainnya dengan keyword “Ambon”, maka pada beberapa saat akan muncul kejadian masa lalu tentang ker*s*han dan tr*g*di Ambon. Pada page 1 google, hasil pencarian yang mencantumkan kejadian itu masih ada, padahal sudah 12 tahun lebih hal itu berlalu. Hal yang lebih mengherankan apabila kita mencari gambar di google dengan kata kunci “AMBON”, maka masih ada beberapa foto yang  menunjukkan peristiwa 12 tahun silam. Untungnya hasil yang lebih baik akan muncul ketika kita mencari informasi di google dengan keyword “MALUKU”, sedikit lebih mengena daripada ketika mencari “Ambon”. [lanjut…]

#AkberAmbon 1st Class: Seruuu…!!!

Momen yang penuh semangat. Itulah yang aku rasakan kemarin sore saat senja kian basah oleh tetesan gerimis sejak pagi buta. Seperti lagu Ambon yang kalau tidak salah liriknya “waktu hujan sore-sore, kilat sambar pohon kenari, eh jojaro deng mungare mari dansa dan manari… dst. Hujannya memang mengguyur namun tidak ada kilat yang menyambar pohon kenari.. dan  jojaro deng mungare alias orang-orang muda-mudi Ambon juga tidak berdansa rame-rame. Namun mereka rame berkumpul dalam satu acara seru yang bertajuk #AkberAmbon 1st Class meluncur mesra di antara untaian hujan di ujung senja.

Sesi ini merupakan implementasi dari gerakan peduli Akademi Berbagi yang digagas mbak @pasarsapi. Intinya kita saling berbagi misalnya ketika kita memiliki suatu pengetahuan, maka dengan sukarela kita membagikannya secara gratis demi memberi pemahaman bagi rekan-rekan kita dan sebaliknya. [lanjut..]

Selat Valentine

Harusnya dalam kurung afdholnya postingan ini dipublish akhir tahun 2010 atau awal tahun 2011 kemarin, karena momen itulah yang paling tepat, istilah masakan saat itu masih hot from the oven. Yah tapi manding telat daripada minggat tidak sama sekali, sekalian mengurangi yang ribed-ribed :D

Selat Valentine, pertama mendengar juga rada kaget. Tidak menyangka di pulau terpencil di wilayah Maluku ada sebuah selat yang namanya romantis bangetValentine“. Selat ini sebagai salah satu spot yang aku kunjungi saat bekpekeran* bareng teman-teman dari Blogger Maluku ke Pulau Boano, di sebelah barat laut Pulau Seram (kalau masih bingung cari petanya di ATLAS ya :D). Cerita versi lengkapnya disini atau yang ini.

Selat ini terletak di antara pulau Boano dengan pulau kecil di sebelah utaranya (lupa namanya :D). Katanya sih yang memberi nama Valentine adalah tentara Belanda pada jaman kolonial dulu. Entah mengapa mereka memberi nama tersebut. Saat masuk ke selat, bentuk bentang alam yang ada sangat keren, menyerupai pintu gerbang, yang terdapat pula pada ujung selat.

cerita selanjutnya

2 tahun sudah meriwayati hidup di maluku

Pas liat kalender hari ini tanggal 15 Mei 2009, ternyata tak terasa lebih dari 2 tahun sudah aku menaburkan cerita hidupku di sela-sela butiran pasir putih dan debur ombak lautan timur Indonesia. Maluku, begitu asin karena terkurung laut biru menghampar. Pulau-pulaumu membawaku pada sebuah petualangan yang sampai saat ini kutapaki.

my rumdis

Tepatnya 11 Mei 2007 ketika aku memasuki rumah itu. Yah, lebih dari 720 hari ku telah memahami apa yang ia ingini. Tenang saja rumahku, tunggu saja “dia” datang segera…

ssttt…

tete momo loko dia

Apa yang kawan bayangkan ketika mendengar kata-kata di atas? Mungkin ada yang bengong, ketawa, heran, mlongo, merem-melek atau nggak ngapa-ngapain alias ngga ngaruh hehe. Aku kasih tau, itu adalah basa ambon. Aku baru mendengarnya Sabtu (4/4) kemarin, pas ngumpul bareng temen2 blogger, kebetulan ada yang pake kaos tertulis “tete momo loko dia”. Aku tergelitik bersimbah rasa penasaran. Awas kawan, mungkin juga kata itu berbahaya layaknya listrik tegangan tinggi..

danger

penuh aura mencekam, ngeri, hiiiii mode on, dan jangan sekali-kali sembarangan dengannya, apalagi anak kecil, bisa-bisa “tete momo loko dia”

Entahlah, bagiku istilah itupun masih samar berkabut. Biarlah sementara terpendam tak kuungkit lagi. Hiihiiiiiii…. :mrgreen:

Atau adakah yang mau menggamblang-jelaskan untaian kata itu? siapapun…

Laor: The Phenomenon

Nyalakan obor-obor itu, biarkan nyiru* terentang, masuklah seirama gelombang….

Laor, sungguh nama yang penuh misteri. Malam minggu yang lalu aku menemuinya, ternyata ia telah menjadi primadona yang membuat senyum warga kampung mengembang. Yah, Lycde oele beribu-ribu timbul tenggelam diterpa alunan ombak pantai berkarang, berenang-renang diantara raupan nyiru. Sungguh menakjubkan.

sunset3Ini kali pertama aku melihat fenomena yang membuatku tercengang. Waktu itu Sabtu sore (14/3) yang cerah, mobil kijang merah meluncur cepat ke arah Bandara Pattimura, terus ke barat naik turun jalanan aspal yang cukup sempit. Sampailah di suatu tempat yang indah eksotis khas pesisir, Negeri Alang. Di sinilah kejadiannya, saatnya timba laor.

Bagi yang belum tahu, Laor adalah sejenis cacing laut dalam bahasa ilmiahnya Lycde oele. Cacing ini unik karena ia muncul hanya setahun sekali, biasanya saat purnama pasang tertinggi. Tidak semua pantai bisa menikmati adanya penampakan laor ini. Umumnya pantai berkaranglah yang biasa menjadi tempat keluar. Ya seperti di Negeri Alang yang aku kunjungi.

ngoborSaat masuk daerah Alang, sudah terasa sekali akan adanya pesta laor. Warga kampung, tua muda, laki perempuan semua berbondong ke pantai membawa obor dan nyiru menunggu waktu malam dan tentunya menunggu laor keluar. Lambat laun mentari pun masuk, dan malam mengembang. Saat itulah obor-obor mulai disulut, nyiru-nyiru mulai direntangkan, satu-persatu warga masuk ke air menyambut datangnya laor.

Ramai, meriah, penuh suara-suara tawa khas Ambon, ditambah lagi riak-riak gelombang yang mengalun. Bener-bener malam yang gegap gempita. Semuanya menikmati. Hanya 3 jam. Setelah itu, satu persatu warga mulai mentas naik ke darat sambil menjinjing laor di dalam ember. Pulanglah sudah, dan saatnya untuk dimasak. Sayangnya aku ngga sempat mencicipi bagaimana rasa laor itu. Namun yang kutahu laor penuh protein seperti kebanyakan cacing lainnya.

Bingung mau nulis apa lagi, tapi bener-bener malam itu laor telah menjadi pemeran utama. Laor, the phenomenon…

cacing laor laor

*nyiru (bahasa Ambon): seser, alat untuk menangkap ikan dan sejenisnya.