::
archives

peduli

This tag is associated with 7 posts

Kalesang Pombo

Seperti yang pernah ditulis di blog saya yang lain, Pulau Pombo merupakan salah satu pulau kecil di perairan Maluku, secara geografis tepatnya di Selat Haruku yang berada di antara Pulau Haruku dan Pulau Ambon, Maluku. Sesuai SK Menteri Pertanian No. 327/Kpts/Um/7/1973 tanggal 25 Juli 1973, pulau ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi sumber daya alam dengan kategori kawasan suaka alam, statusnya cagar alam/taman laut. Kegiatan pemanfaatan sumber daya alam Pulau Pombo yang dapat dilakukan adalah dengan titik berat untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. [lanjut…]

Advertisements

sampahmu masalahku

Sedikit fakta mengenai sampah:

  • Sebetulnya tidak ada orang yang bebas dari status sebagai produsen sampah. Setiap individu diperkirakan ”menghasilkan” 1-2 kilogram sampah per hari [http://koran.kompas.com/]
  • Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari.  Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur adalah 55.000 meter kubik) [http://www.koranbekasi.com/]
  • Jakarta pada Juli 2007 menunjukkan bahwa timbulan sampah per hari mencapai 26.945 meter kubik. Jumlah sampah yang setara dengan 6.736 ton itu bukanlah perkara kecil. Hanya sekitar 6.000 ton yang tertanggulangi. Sisanya tersebar di sembarang tempat, di mana saja [http://koran.kompas.com/]
  • Jumlah sampah plastik yang kian berkibar-kibar mengotori lingkungan, tampaknya akan segera menjelma menjadi investasi bencana di masa mendatang [http://www.d-infokom-jatim.go.id/]
  • Sampah di sungai Jakarta dalam sehari jumlahnya mencapai 768 meter kubik per hari atau setara 192 truk Fuso [http://metro.vivanews.com/news/]
  • Sampah adalah barang sisa yang oleh warga sering hanya sekadar dijauhkan dari dirinya [http://koran.kompas.com/]

Ketika sampah semakin menjadi masalah, dibutuhkan sungguh suatu kesadaran pribadi masing-masing orang untuk tidak beranggapan bahwa Sampahmu Masalahku atau Sampahku Masalahmu tetapi memahami bahwa Sampah adalah Masalah Kita Bersama.

Dunia blogger terasa indah, begitukah?

saling kunjung, saling komentar, tukar link, penuh pengertian, penuh motivasi, menyapa dengan senyum, hingga ada jalinan keakraban meskipun belum bertatap empat mata, sungguh indah…

Itulah yang aku rasakan, paling tidak ketika menjelajahi dunia maya, ngeblog tentu saja.. Apakah benar demikian..? Kalo menurutku, ya itulah adanya. Ketika satu sama lain merasa “saling berbagi” adalah suatu “kebutuhan” maka yang terlahir adalah peduli dan saling pengertian. Moga-moga nilai-nilai indah inilah yang nantinya juga merasuk ke sendi-sendi kehidupan nyata kita menjadikannya lebih berwarna…

Begitukah kawan? Menurutmu?

Mesjid Tua Wapaue Kaitetu

Pas waktu sholat Ashar ketika aku dan temanku nyampe di masjid tua ini tanggal 4 Maret kemarin. Kebetulan waktu itu ada senior yang ngajak ke mesjid tersebut. Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, itulah tulisan yang terpampang di gerbang masuknya. Letaknya di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Adanya masjid tersebut membuktikan bahwa ternyata Islam sudah sangat lama  ada di Maluku. Pada prasasti tertulis bahwa mesjid itu dibangun tahun 1414 M. Mungkin ada dari teman-teman sekalian yang mau menambahkan cerita atau sejarah lengkapnya dari masjid ini, silakan saja..

Inilah sudut-sudut yang berhasil aku jepret..

gerbang1

masjid

masjid2

bedug

Made in Indonesia Asli

Waktu kecil dulu kalo nggak salah kelas 4 SD, aku pernah punya sepeda BMX lungsuran (baca: bekas pakai) dari kakakku. Itu pertama kalinya aku bisa sepeda, dimana saat itu belum banyak yang punya sepeda di kampungku. Masih ingat betul di rangka depan di bawah stang tertulis “MADE IN TAIWAN”. Saat itu aku belum tau apa arti kalimat itu, namun kata kakakku intinya bahwa sepedaku itu buatan Taiwan dan memang itulah maksud kata itu. Mulai saat itu setiap ada barang-barang baru apa saja, kemungkinan besar aku akan melihat dan ingin tahu barang tersebut made in mana.

Tahu nggak, ternyata dari banyaknya barang yang beredar di Indonesia, umumnya bila ada penjelasan dari mana barang itu, maka kebanyakan tertulis made in China, atau made in Shang Hai seperti piring, glassware dan barang-barang yang lain. Barang yang kelihatannya remeh tapi ternyata penting kebanyakan buatan China. Coba deh cek barang-barang yang kecil-kecil seperti pemotong kuku, pembersih CD, pembersih laptop dan lainnya, kebanyakan made in China. Baterai laptopku ta liat juga made in China. Manurutku dari sini dapat diketahui bahwa China memang kreatif, mereka berpikir apa yang tidak terpikir oleh negara lain dan mereka melakukannya. Contoh lain ada pada barang-barang pelengkap alat-alat elektronik seperti headset, radio FM mini dan lainnya. Bener-bener dah.. ditambah lagi harganya yang lebih miring dibanding produk negara lain, maski kadang kalah dalam kualitas. Tapi itu bukan masalah, karena buktinya mereka diprediksi akan menjadi pesaing negara-negara barat di perdagangan global. Dan kayaknya sudah mulai terasa tuh..

Lalu bagaimana dengan Indonesiaku…?

MADE IN INDONESIA  juga banyak, tapi feel-nya dirasa-rasa masih kurang. Kita akan lebih memilih produk impor yang kenyataannya secara umum lebih baik meskipun tidak semuanya. Itulah yang salah, harusnya kita bangga memakai produk dalam negeri. Bila terasa kualitasnya masih kurang, kita bisa memberi saran melalui hotline atau layanan pelanggan yang biasanya ada di kemasan produk tersebut. Yaa mungkin produk dalam negeri kita masih belum sebanyak produk-produk impor, tapi tidak ada salahnya bila kita perlahan-lahan namun pasti kembali ke Indonesia. Hal yang pertama bisa dilakukan mungkin dengan memilah produk-produk yang akan kita pakai, bila ternyata ada yang made in Indonesia dan made in impor maka kita mengacu pada opsi kedua yaitu keunggulan dan kelemahan produk tersebut. Bisa saja yang made in Indonesia akan lebih baik bila kita pilih. Kalo emang produk yang akan kita pakai tidak ada yang made in Indonesianya ya apa boleh buat, kita akhirnya pakai produk impor dengan catatan, kita berdoa semoga diwaktu mendatang ada versi made in Indonesianya.

Itu semua adalah sebuah paradigma dan kenapa kita tidak membuat suatu paradigma baru yaitu dengan menempatkan produk made in Indonesia sebagai tolak ukur pertama kita dalam memilih suatu produk, dan apabila ternyata nggak ada maka apa boleh buat, dengan sangat terpaksa kita pakai produk impor, tapi dengan syarat yang tadi (memberi saran dan berdoa semoga ada produk tersebut yang made in Indonesia di kemudian hari).

Paradigma diatas menurut aku penting untuk menuju suatu kemandirian yang sudah dicita-citakan oleh bangsa Indonesia sejak lama. Sekarang sudah hampir 64 tahun kita merdeka, tapi kita masih jauh dari mandiri. Mandiri dalam arti tidak selalu menggantungkan semua aspek kehidupan kita pada negara lain. Semangat kemandirian ini perlu kita pupuk dari hati masing-masing individu manusia Indonesia yang selanjutnya akan dimungkinkan terbentuknya kemandirian keluarga, masyarakat, dan ujung-ujungnya adalah kemandirian bangsa. Kalau bukan kita siapa lagi..?

bugiakso blog competition 2009

Lautku Kehidupanku

Indonesia memang negeri yang indah, lautnya luas, pantainya terhampar sepanjang lebih dari 81.000 km membentang di sebagian besar wilayah yang ada. Laut sebagai penghubung lintas wilayah, di dalamnya terkandung kekayaan yang melimpah; sumberdaya perikanan, budidaya, dan energi kelautan. Semua itu patut kita syukuri. Sama halnya ketika aku harus menyukuri keadaanku sekarang ini yang masih bisa menikmati ikan asin, sotong, kerang, udang-udangan dan makanan dari laut lainnya.

Tapi tahukah bahwa semua hasil laut itu tidak didapat dengan mudah, butuh usaha dan kerja keras. Seperti orang-orang di sekitar tempat tinggalku yang menyandarkan hidupnya dari laut, tetapi mereka tidak mempunyai alat-alat canggih untuk menagkap ikan. Modal mereka hanya pancing sederhana, dan apa yang mereka dapat hanya cukup untuk makan sehari-hari, kadang ada sisa sedikit untuk mereka jual, itupun kalau laku.

Ada lagi yang lain, mereka dengan susah payah menggali pasir dan batuan di pantai mencari bia (kerang dalam bahasa Ambon) yang terbenam di dalamnya. Kadang mereka dapat setengah ember, satu ember, tapi kadang juga hanya beberapa ekor saja. Semua tergantung kondisi laut, bila laut surut ada sedikit harapan tetapi bila laut sedang pasang maka akan susah sekali mencari bia. Itu semua hanya untuk makan sehari-hari, bukan hanya satu dua orang, tetapi banyak orang melakukan itu. Kadang terasa menyedihkan.

Namun perhatianku bukan sebatas pada fenomena tersebut, tetapi menjurus pada hal yang lebih penting yaitu kondisi laut itu sendiri. Tak dapat dipungkiri kalo laut di daerahku sudah mulai tercemar, baik oleh limbah domestik maupun limbah industri. Sampah mengapung dan terbenam di sekitar laut, manjadikan pemandangan yang kurang sedap karena seharusnya laut itu biru indah, tetapi yang ada sekarang hijau kecoklatan karena limbah.

Mungkin ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan. Limbah yang masuk ke laut memang tidak bisa dibendung melihat perkembangan penduduk dan pembangunan.  Semakin bertambah penduduk dan pembangunan di sekitar laut, maka konsekuensinya akan semakin banyak pula limbah yang masuk ke dalamnya. Kita juga tidak mungkin bisa mengawasi, menghentikan atau melarang masuknya limbah ke laut. Hal ini disebabkan karena setiap kegiatan manusia dalam skala besar maupun kecil selalu menghasilkan limbah, baik limbah padat, cairan, maupun gas yang terbuang ke lingkungan. Menghentikan produksi limbah berarti menghentikan seluruh kegiatan manusia. Ini tidak mungkin. Dalam konteks ini, pengendalian limbah mungkin dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah dan jenis limbah yang dihasilkan dari kegiatan manusia dan pembangunan. Contoh kongkritnya dengan kesadaran masing-masing individu untuk mengurangi kegiatan yang beresiko menghasilkan limbah, serta tidak membuang sampah limbah itu sembarangan ke laut.

Alternatif lain yaitu dengan meningkatkan peranan laut itu sendiri. Laut dalam skala tertentu memilik kapasitas asimilasi untuk memproses dan mendaur ulang limbah pencemar yang ada di dalamnya dengan adanya biota-biota yang bisa mendegradasi limbah. Namun hal ini juga tidak cukup untuk mengurangi pencemaran karena membutuhkan proses yang lama.

Jadi yang terpenting untuk dilakukan adalah memperbaiki perilaku kita terutama kegiatan yang menghasilkan limbah agar sebisa mungkin diminimalisir. Karena semua kegiatan baik di darat maupun di sekitar laut yang menghasilkan limbah, secara langsung maupun tidak langsung akan menemukan jalannya untuk mencemari laut. Mari kita jaga laut kita demi kehidupan kita dan anak cucu kita. Sumberdaya hayati yang ada sekarang bukan untuk dihabiskan, tetapi ini adalah warisan untuk keturunan kita di masa yang akan datang.

Jayalah lautku…

banner06

We Will Not Go Down (Song for Gaza) by Michael Heart

Berbagai cara dilakukan untuk menentang penyerangan Isreal terhadap Palestina. Rasa simpati itu dapat pula dituangkan dalam sebuah lagu. Inilah lirik lagu berjudul We Will Not Go Down by Michael Heart (copyright 2009) mungkin juga sebagai wujud keprihatinannya.

WE WILL NOT GO DOWN (SONG FOR GAZA)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Lagunya dapat didownload diblog Pak Sutoro guru SMA-ku dulu..

“Save Our Palestine”